Kaget dengan Balasan Iran, Trump Dilaporkan Minta Berhenti Perang

7 hours ago 5

Warga Korea Selatan berunjuk rasa menolak kerja sama pengamanan Selat Hormuz yang diminta Presiden AS Donald Trump di luar kedutaan AS di Seoul, Korea Selatan, 16 Maret 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Serangan mendadak Israel ke ladang gas Pars Selatan milik Iran dibalas kontan ke fasilitas migas di negara-negara Teluk. Eskalasi berbahaya itu dikabarkan membuat Presiden AS Donald Trump mengiba minta serangan Iran dihentikan. 

“Untuk ketiga kalinya hari ini, Washington mengirimkan pesan melalui negara di regional meminta perang dihentikan,” demikian dilaporkan akun media Iran Now pada Kamis.

Permintaan AS itu didampingi ancaman pembunuhan terhadap para petinggi Iran yang lebih lekas. “Iran menegaskan posisinya belum berubah. Tak ada gencatan senjata sebelum tujuan negara itu, yang disampaikan pejabatnya, tercapai.”

Perubahan sikap Trump atas berjalannya perang diiyakan Kanselir Jerman Friedrich Merz. Ia secara terbuka ⁠telah menyatakan terima kasih atas apa yang dia katakan sebagai sinyal baru-baru ini dari Donald Trump bahwa dia siap untuk mengakhiri serangan terhadap Iran. 

“Saya sangat berterima kasih ‌bahwa presiden AS mengirimkan sinyal mengenai hal ini tadi malam bahwa dia siap untuk mengakhiri pertempuran,” kata Merz kepada ⁠wartawan menjelang pertemuan puncak ⁠Uni Eropa di Brussels. 

Dia menambahkan bahwa Eropa siap membantu menstabilkan Timur Tengah setelah pertempuran berhenti.

Komentarnya muncul setelah Trump mengatakan di Truth Social bahwa Israel telah “menyerang dengan keras” ladang minyak Pars milik Iran, tanpa sepengetahuan Washington. Trump juga menjanjikan tidak akan ada lagi serangan yang dilakukan Israel di ladang minyak tersebut.

Sementara, juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya IRGC mengatakan tanggapan Iran terhadap serangan terhadap infrastruktur energinya “belum selesai”. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita ISNA, juru bicara tersebut mengatakan bahwa jika serangan terhadap infrastruktur energi Iran terulang kembali, responsnya akan “jauh lebih dahsyat”. 

“Kami memperingatkan musuh bahwa Anda melakukan kesalahan besar dengan menyerang infrastruktur energi… Iran,” katanya. “Jika hal ini terulang lagi, serangan berikutnya terhadap infrastruktur energi Anda dan sekutu Anda tidak akan berhenti sampai infrastruktur tersebut benar-benar hancur."

AS dan Israel memulai serangan ilegal ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu terjadi saat perundingan antara AS dan Iran dilaporkan mulai mencapai titik temu. Sekitar dua ribu warga Iran meninggal akibat serangan tersebut. Sementara Iran membalas dengan menyerang aset AS di negara-negara Teluk dan menutup Selat Hormuz, jalur laut krusial distribusi migas dunia.

Read Entire Article
Food |