Kelompok Peternak Sebut Serapan Daging Ayam oleh SPPG tak Signifikan

8 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Pelaku usaha perunggasan di Jawa Tengah menilai penyerapan daging ayam oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum memberikan dampak signifikan terhadap pasar. Meski demikian, mereka menyambut keputusan yang mewajibkan menu ayam disajikan dua kali dalam sepekan di program tersebut.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah Susilo mengatakan, selama ini penggunaan daging ayam dalam menu MBG belum memiliki porsi yang pasti sehingga dampaknya terhadap penyerapan produksi peternak masih terbatas.

"Tapi kalau dulu itu tidak ada aturan harus seminggu dua kali. Jadi bisa pakai, bisa tidak daging ayamnya. Sehingga serapan ini kurang signifikan," kata Susilo usai menghadiri rapat koordinasi penyerapan bahan baku lokal untuk program MBG di Kantor Pemprov Jawa Tengah, Jumat (19/6/2026).

Menurut dia, produksi ayam di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 1,5 juta hingga 1,6 juta ekor per hari, sementara kebutuhan pemotongan hanya sekitar 1,3 juta hingga 1,4 juta ekor per hari. Kondisi surplus tersebut menjadi salah satu penyebab harga ayam hidup di tingkat peternak berada di bawah harga acuan pemerintah (HAP).

Susilo mengatakan, harga ayam hidup saat ini berada di kisaran Rp17 ribu per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga yang seharusnya berada di sekitar Rp20 ribu per kilogram.

"Jadi peternak mengalami kerugian. Kenapa terjadi harganya di bawah HAP? Karena terjadi over supply," ujarnya.

Ia memperkirakan kebijakan penyajian menu ayam dua kali dalam sepekan di program MBG dapat menyerap sekitar 7 persen produksi ayam di wilayah Jawa Tengah dan DIY. “Memang belum signifikan, tapi cukup membantu," kata Susilo.

Selain menghadapi tekanan harga jual, peternak juga dihadapkan pada kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya harga pakan ternak. Menurut Susilo, harga pakan saat ini telah mencapai sekitar Rp9 ribu per kilogram, naik dari kisaran Rp7 ribu hingga Rp8.500 per kilogram.

Dalam rapat yang sama, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin mengatakan pemerintah daerah, Badan Gizi Nasional (BGN), dan asosiasi peternak telah menyepakati penggunaan menu telur dan daging ayam masing-masing dua kali dalam sepekan pada program MBG.

"Menu kita sudah sepakat bahwa satu minggu itu menunya telur dua kali, daging ayam dua kali. Itu sudah ada kesepakatan," ujar Yasin.

Ia juga meminta seluruh SPPG di Jawa Tengah mengutamakan pembelian bahan baku dari peternak dan pelaku usaha lokal sesuai harga acuan pemerintah.

Sementara itu, Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Jawa Tengah Suwardi menyoroti adanya perbedaan harga pembelian telur oleh sejumlah SPPG. Menurut dia, sebagian peternak melaporkan telur dibeli pada kisaran Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram, jauh di bawah harga acuan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.

"Kami berharap harga telur dapat dibuat Rp26 ribu per kilogram. Ini belum HAP, karena HAP-nya Rp26.500," kata Suwardi.

Ia meminta pemerintah menelusuri praktik pembelian telur di bawah harga acuan karena dinilai merugikan peternak, terutama di tengah kenaikan biaya produksi akibat melonjaknya harga pakan ternak.

Read Entire Article
Food |