REPUBLIKA.CO.ID, SERANG — Tantangan kemandirian umat di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan digital menjadi sorotan utama dalam agenda strategis Mathla’ul Anwar. Organisasi ini menekankan perlunya penguatan peran pendidikan, dakwah, dan sosial sebagai fondasi membangun peradaban umat yang adaptif terhadap zaman.
Isu tersebut mengemuka dalam rangkaian Muktamar XXI Mathla’ul Anwar yang digelar di Kota Serang, Banten. Forum ini menjadi ruang konsolidasi nasional untuk merumuskan arah kebijakan organisasi dalam menjawab tantangan global, termasuk kesenjangan kualitas sumber daya manusia (SDM), tekanan ekonomi umat, hingga disrupsi teknologi.
Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar, Embay Mulya Syarief, menegaskan bahwa organisasi keagamaan tidak lagi cukup berperan dalam aspek normatif, tetapi harus masuk ke ranah solusi konkret.
“Muktamar ini menjadi momentum untuk memperkuat arah organisasi dalam menjawab tantangan zaman, terutama dalam membangun kemandirian umat,” ujarnya.
Mathla’ul Anwar mendorong penguatan tiga sektor utama, yakni pendidikan, dakwah, dan sosial, sebagai instrumen strategis dalam meningkatkan kapasitas umat. Pendidikan menjadi fokus utama, mengingat perannya dalam menjawab ketimpangan kualitas SDM.
Di Provinsi Banten, organisasi ini telah mengelola ratusan madrasah, sementara secara nasional jaringan pendidikan Mathla’ul Anwar terus berkembang sebagai bagian dari ekosistem pendidikan Islam.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa pembangunan umat tidak dapat hanya bergantung pada negara. Kolaborasi dengan organisasi masyarakat menjadi kunci dalam memperluas dampak pembangunan. “Mempersiapkan umat masa depan harus dilakukan bersama, tidak bisa hanya oleh negara,” katanya.
Selain pendidikan, tantangan ekonomi umat juga menjadi perhatian. Organisasi keagamaan dinilai perlu mengambil peran lebih besar dalam memperkuat kemandirian ekonomi berbasis komunitas.
Dalam konteks ini, Mathla’ul Anwar mendorong integrasi antara nilai keagamaan dan penguatan kapasitas ekonomi, agar umat tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mandiri secara ekonomi.
Ketua OC Muktamar, Asep Rohmatulloh, menyebut forum ini juga menjadi ajang konsolidasi kader untuk memperkuat arah gerakan organisasi di tengah dinamika global. “Muktamar ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan kebijakan organisasi ke depan, termasuk penguatan kelembagaan dan kaderisasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh dinamika yang sempat muncul dalam proses pelaksanaan telah diselesaikan melalui komunikasi internal, sehingga agenda muktamar dapat berjalan sesuai rencana.
Ke depan, Mathla’ul Anwar diharapkan mampu bertransformasi menjadi organisasi yang lebih adaptif terhadap perubahan, sekaligus tetap berakar pada nilai keislaman dan keindonesiaan, khususnya dalam menjawab tantangan pendidikan dan ekonomi umat yang semakin kompleks.

5 hours ago
9















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448189/original/093801500_1766021590-WhatsApp_Image_2025-12-18_at_07.55.13.jpeg)