Ketua PP Muhammadiyah Respons Polemik 'Mens Rea': Bangsa Ini Butuh Kritik

18 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Buya Anwar Abbas menyatakan, semua pihak seyogianya berlapang dada jika dikritik. Sebab, lanjut dia, melalui kritik, seseorang atau organisasi bisa bercermin apakah sudah berbuat yang baik dan benar atau belum.

"Kalau kita sudah berbuat baik dan benar, mari kita tingkatkan lagi kualitas dari kebaikan dan kebenaran yang sudah kita lakukan agar kehadiran dari diri dan institusi kita semakin dirasakan manfaat dan mashlahatnya oleh banyak orang," ujar Buya Anwar Abbas kepada Republika, Jumat (9/1/2026).

"Dan kalau di masa lalu kita belum bisa berbuat baik dan benar, mari kita evaluasi apa yang menjadi penyebab dari itu semua, untuk kemudian kita carikan upaya serta solusi agar kehadiran kita bisa menjadi lebih berarti dan bermakna," sambung dia.

Menurut Buya Anwar, ikhtiar menjadi baik dan benar bagi Muhammadiyah mesti dilihat sebagai sebuah tugas suci. Sebagai gerakan Islam, Muhammadiyah mengambil sumber inspirasi dari ajaran Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda, sebaik-baik insan adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Muhammadiyah pun selalu mengupayakan keberadaannya menebar maslahat seluas-luasnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan pada umumnya.

Buya Anwar berpesan, keberimbangan penting adanya, baik dari sisi pengkritik maupun pihak yang dikritik. Sebab, kadang kala jika terlalu semangat dalam mengkritik, sisi emosional lebih dominan daripada pertimbangan rasional. Begitu pula, merespons kritik dengan sisi emosional belaka tidaklah bijaksana.

"Di dalam ilmu psikologi, ada teori jungkat jungkit, di mana orang kalau terlalu bersemangat, maka perasaannya yang akan dominan sehingga peran rasio dan pikirannya dalam memberikan pendapat dan saran akan menurun. Sebaliknya, jika rasio atau pikirannya yang terlalu dominan, peran dari perasaannya dalam mempertimbangkan sesuatu akan menurun," papar Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini.

"Oleh karena itu, kita---apakah itu yang mengkritik ataupun yang dikritik---diminta untuk bisa mengelola perasaan dan rasio serta pikiran kita dengan baik. Ini agar kita tetap dapat konsisten dengan misi kita untuk menegakkan kebaikan dan kebenaran," sambung dia. 

Read Entire Article
Food |