Korban Jiwa Runtuhan Gedung yang Dibom Israel di Gaza Bertambah

1 hour ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Sebuah bangunan yang menampung sekitar 100 keluarga pengungsi Palestina runtuh di Kota Gaza, menewaskan sedikitnya 20 orang. Sementara tim penyelamat mencari puluhan orang yang diyakini terjebak di bawah reruntuhan, termasuk anak-anak.

Tim penyelamat dari badan pertahanan sipil Gaza menyatakan telah mengevakuasi jenazah lima anak di antara para korban, sementara 25 orang yang terluka dilarikan ke rumah sakit. Sumber medis menyebutkan bahwa tim penyelamat dapat mendengar suara orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan saat mereka berupaya menjangkau para korban.

Bangunan bertingkat yang hancur akibat pengeboman—yang memiliki empat unit apartemen di setiap lantainya—sebelumnya pernah terkena serangan Israel selama perang, sehingga strukturnya sangat lemah dan berisiko runtuh. Saat bangunan itu ambruk pada hari Rabu, reruntuhannya menimpa tenda-tenda di sebelahnya yang dihuni oleh keluarga-keluarga pengungsi, menurut keterangan para saksi mata.

Dilansir the Guardian, Runtuhnya bangunan tersebut menyoroti bahaya yang terus mengancam puluhan ribu warga Palestina yang tinggal di sekitar 2.000 bangunan yang rusak akibat serangan udara Israel di seluruh Jalur Gaza.

Mohammed Abu Dan, seorang pengawas tim pertahanan sipil yang melakukan evakuasi korban, mengatakan bahwa lebih dari 10 keluarga tinggal di bangunan tersebut, dan para pengungsi terpaksa menetap di sana karena tidak ada tempat penampungan lain yang tersedia.

"Operasi pencarian dan penyelamatan dilakukan dalam kondisi yang sangat sulit akibat kurangnya peralatan dan sumber daya yang memadai," ujar Abu Dan.

Para pejabat Palestina dan PBB menyalahkan pembatasan Israel terhadap Gaza sebagai penyebab kurangnya alat berat di wilayah tersebut. Israel menyatakan bahwa pembatasan itu bertujuan mencegah peralatan tersebut jatuh ke tangan kelompok-kelompok militan.

Sebuah video yang diperoleh Reuters memperlihatkan petugas penyelamat berupaya mengeluarkan dua orang dari bawah reruntuhan tembok yang ambruk. Video lain yang beredar di media sosial menampilkan juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmoud Basal, sedang menggendong seorang anak perempuan yang dibalut syal berlumuran darah.

Raed al-Dahshan, direktur layanan pertahanan sipil Kota Gaza, mengatakan: "Kami masih mendengar suara-suara dari balik reruntuhan, jadi masih ada harapan untuk menemukan orang-orang."

Alessandro Mrakic, kepala kantor Program Pembangunan PBB (UNDP) di Gaza, mengatakan bahwa tim penyelamat dari berbagai badan PBB turut serta dalam operasi tersebut—sebuah upaya yang ia gambarkan sangat sulit akibat minimnya peralatan berat yang memadai. Badan bantuan Mesir juga terlibat dalam operasi ini.

"Ada orang-orang yang benar-benar menggali menggunakan tangan kosong. Kita perlu bersiap (menghadapi kemungkinan bertambahnya korban jiwa)," ujar Mrakic.

Tenda-tenda milik keluarga pengungsi telah didirikan di sepanjang jalan di sisi bangunan tersebut karena tidak ada tempat lain bagi mereka untuk berlindung.

Insiden serupa telah terjadi berulang kali selama dua tahun terakhir; puluhan rumah dan bangunan yang rusak akibat perang kemudian runtuh, memerangkap orang-orang di dalamnya serta menyebabkan tambahan korban jiwa dan luka-luka.

Karena minimnya pilihan lain, banyak warga Palestina kembali ke rumah mereka yang rusak sebagian atau menempati bangunan-bangunan terbengkalai, sembari membersihkan sedikit ruang di antara puing-puing meski menghadapi bahaya. Melonjaknya harga sewa dan biaya lahan kosong membuat upaya mencari tempat tinggal yang lebih aman menjadi semakin sulit.

Ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi juga masih belum bisa kembali ke lingkungan tempat tinggal di dekat wilayah yang disebut sebagai "garis kuning", sehingga memaksa keluarga-keluarga tersebut mencari ruang apa pun yang tersedia di tempat lain. Pada bulan Mei, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk menguasai 70% wilayah Gaza.

Atap, dinding, dan pilar penyangga yang rusak dapat runtuh sewaktu-waktu tanpa peringatan, terutama saat terjadi angin kencang, hujan deras, atau serangan lanjutan. Saat ditanya apakah mereka merasa khawatir akan keselamatan diri dan anak-anak mereka, warga yang tinggal di sana menjawab: "Ya, kami takut, tapi ke mana lagi kami harus pergi? Ini lebih baik daripada harus tinggal di jalanan."

Serangan Israel terhadap Gaza terus berlanjut meskipun gencatan senjata telah diberlakukan. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sebanyak 1.369 warga Palestina tewas dan 4.627 lainnya terluka sejak gencatan senjata yang rapuh itu mulai berlaku pada 11 Oktober 2025.

Read Entire Article
Food |