Wisatawan melintasi lokasi semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). Kementerian ESDM telah menerbitkan izin Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran kepada PT PLN (Persero) untuk dikembangkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebagai bagian dari pengembangan energi baru dan energi terbarukan (EBT), sekaligus mendorong terobosan energi bersih untuk memperkokoh kedaulatan dan kemandirian energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Guru Besar Fisika Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip) Prof Agus Setyawan menilai pengembangan panas bumi Gunung Ungaran berpotensi mendukung pengurangan emisi sektor ketenagalistrikan sekaligus memperkuat pemanfaatan energi rendah karbon.
“Secara umum, rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti CO2, SOx, NOx, dan partikulat yang sangat rendah dibandingkan pembangkit berbasis bahan bakar fosil,” kata Agus, Rabu (16/9/2026).
Agus, yang memiliki keilmuan di bidang fisika, khususnya geofisika dan geotermal, menjelaskan panas bumi memanfaatkan panas dari dalam bumi untuk menghasilkan listrik. “Karakteristik sumber panas dan teknologi yang digunakan menjadi faktor penting dalam menentukan kinerja pembangkit dan tingkat emisinya,” katanya.
Panas bumi, lanjut Agus, memiliki peluang untuk mendukung penggunaan energi yang lebih rendah karbon. “Sumber energi ini juga dapat membantu memperkuat keragaman sumber listrik sehingga kebutuhan energi tidak hanya bergantung pada satu jenis pembangkit,” katanya.
Agus menjelaskan fluida panas bumi yang berasal dari reservoir dapat membawa gas alami seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S). “Namun, jumlah emisi yang dihasilkan dapat berbeda-beda, tergantung pada karakteristik fluida dan teknologi pembangkit yang digunakan,” katanya.
Untuk itu, lanjutnya, pengelolaan sumber daya menjadi bagian penting dalam pengembangan panas bumi. “Salah satunya adalah pengelolaan fluida yang telah digunakan dalam proses pembangkitan.
“Fluida yang sudah tidak digunakan akan direinjeksikan kembali ke reservoir sehingga akan mengurangi pembuangan limbah berbahaya yang merusak ekosistem,” jelasnya.

1 hour ago
6















































