Sutradara Laut Bercerita Jelaskan Tantangan Menghidupkan Nuansa 90-an

1 hour ago 4

Aktor Reza Rahardian dan sutradara Yosep Anggi Noen saat promo film Laut Bercerita di Kantor Republika, Jakarta, Senin (14/9/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sutradara Yosep Anggi Noen mengungkap tantangan mengadaptasi novel Laut Bercerita karya Leila S Chudori menjadi film panjang. Salah satu tantangan terbesar adalah membangun kembali suasana Indonesia era 1990-an secara detail mulai dari lokasi, properti, hingga penampilan para pemain.

Anggi mengatakan membangun nuansa Indonesia era 1990-an membutukan effort yang besar. la bahkan harus menanam jagung dan menyesuaikan ketinggiannya agar sesuai dengan kebutuhan cerita.

"Menanam jagung dan untuk menyesuaikan tinggi jagung itu tentu saja effort besar. Tapi harus kami lakukan untuk kebutuhan cerita," kata Anggi saat diwawancara di kantor Republika, Jakarta Selatan, Senin (14/9/2026).

Tantangan lain muncul saat ia harus merekam adegan demonstrasi mahasiswa di sebuah kompleks pertokoan. Karena film ini berlatar Yogyakarta dan syuting dilakukan di Semarang, kru harus memblok satu kompleks pertokoan, mengganti seluruh nama toko, serta menghadirkan sekitar 500 orang yang kemudian didandani agar terlihat seperti masyarakat pada era '90-an.

"Detail-detail itu yang stressful. Tapi detail itu penting, karena saya ingin menunjukkan bahwa film ini sesuai seperti yang terlihat di tahun 90-an," kata Anggi.

Suasana era tersebut tidak hanya dibangun melalui visual. Anggi juga menggunakan suara radio dan pemberitaan dari era 1990-an. Beberapa rekaman radio bahkan diambil langsung dari arsip masa tersebut.

"Beberapa suara radio saya ambil langsung dari pusat arsip di Yogyakarta. Jadi saya menyelami suara dan berita yang relevan untuk membangun semesta film Laut Bercerita. Tapi memang ada juga berita dan suara yang kami rekam ulang di studio," kata dia.

Anggi kemudian mengungkap alasan pentingnya mengangkat kisah Biru Laut melalui film panjang. Menurut dia, setelah novel Laut Bercerita dikenal luas, cerita tersebut perlu dihadirkan kembali melalui medium film untuk memberikan perspektif lain tentang perjuangan anak muda pada era 1990-an.

"Saya merasa penting, karena film ini soal ingatan. Bukan hanya soal insiden penghilangan paksa, tapi juga bagaimana keluarga terus menunggu dan mempertanyakan hal-hal yang belum jelas itu sampai sekarang," kata Anggi.

Read Entire Article
Food |