Krisis Energi Paksa Negara Non-Nuklir Lirik PLTN

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, NAIROBI – Krisis energi yang dipicu perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran mendorong sejumlah negara non-nuklir mulai melirik sumber energi tanpa emisi tersebut. Perang memangkas pasokan energi, terutama di Asia dan Afrika.

Blokade Selat Hormuz, jalur seperlima perdagangan minyak dan salah satu rute utama perdagangan gas dunia, menaikkan harga energi. Hal ini mendorong negara-negara Asia dan Afrika yang sudah memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) meningkatkan produksi mereka.

Sementara itu, negara-negara non-nuklir juga mempercepat penyusunan rencana pembangunan PLTN untuk mengamankan pasokan energi di tengah meningkatnya volatilitas harga bahan bakar fosil. Namun, pakar mengingatkan nuklir bukan solusi cepat untuk krisis energi.

Peneliti senior Council on Foreign Relations (CFR) Joshua Kurlantzick mengatakan, butuh puluhan tahun untuk membangun PLTN, terutama bagi negara yang belum pernah memilikinya. Namun, PLTN dapat menjadi langkah jangka panjang untuk menjaga pasokan energi.

Konflik AS-Iran mendorong Korea Selatan (Korsel) meningkatkan produksi PLTN mereka. Sementara Taiwan sedang mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali PLTN yang sudah dinonaktifkan.

Negara-negara Afrika juga berencana membangun PLTN. Kenya, Rwanda, dan Afrika Selatan menjadi negara-negara garda depan dalam rencana tersebut.

Energi nuklir dihasilkan dengan memanfaatkan energi yang dilepaskan saat inti atom (biasanya menggunakan unsur uranium) terbelah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Proses pembelahan inti atom ini disebut fisi.

Berbeda dengan bahan bakar fosil yang melepaskan karbon dioksida saat dibakar, energi nuklir tidak menghasilkan emisi karbon. Hal ini menjadikannya salah satu sumber energi yang tidak memperburuk perubahan iklim.

Meskipun bersih dari emisi udara, proses nuklir menghasilkan limbah radioaktif yang berpotensi sangat berbahaya bagi makhluk hidup dan lingkungan dalam jangka waktu yang sangat lama. Limbah radioaktif ini menjadi alasan utama banyak negara menolak PLTN.

Penasihat senior Bulletin of the Atomic Scientists Rachel Bronson mengatakan, perang AS-Israel dengan Iran mempercepat apa yang ia sebut “pencerahan nuklir”. Karena perang menyadarkan banyak negara pada risiko pasar bahan bakar fosil.

Berdasarkan data Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA), saat ini terdapat 31 negara yang menggunakan energi nuklir yang menyediakan sekitar 10 persen listrik global. Sekitar 40 negara lainnya sedang mempertimbangkan atau mempersiapkan pembangunan PLTN.

Sejumlah negara di Asia, termasuk Indonesia, memilih untuk meningkatkan penggunaan batu bara atau membeli minyak mentah dari Rusia untuk mengatasi krisis energi. Namun, negara-negara yang sudah memiliki PLTN memilih meningkatkan produksi energi mereka dari nuklir.

Korsel meningkatkan produksi dari PLTN dan mempercepat perawatan lima reaktor yang tidak aktif. Lima reaktor itu rencananya akan diaktifkan kembali pada Mei.

Taiwan dan Jepang mencabut kebijakan larangan PLTN yang diterapkan setelah bencana PLTN Fukushima pada 2011 lalu. Taiwan berencana untuk mulai mengaktifkan kembali dua reaktor nuklir mereka.

sumber : AP

Read Entire Article
Food |