REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Masjid Pantai Jembrana, Bali, didorong berkembang tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat wisata religi, wisata halal, dan penggerak ekonomi syariah. Pengembangan tersebut diharapkan menghubungkan sektor haji dan umrah dengan UMKM, ekonomi kreatif, investasi, hingga perdagangan produk lokal ke pasar internasional.
Gagasan itu mengemuka bersamaan dengan pembukaan kantor cabang ke-74 Gaido Travel di Masjid Pantai Jembrana, Ahad (23/8/2026). Kantor cabang tersebut dipimpin Firmansyah Dimmy yang juga menjabat Ketua Yayasan Masjid Pantai Nusantara.
Peresmian dilakukan dalam momentum diskusi panel dan monitoring berkelanjutan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala BPKH Fadul Imansyah, pendiri Gaido Group Muhammad Hasan Gaido, dan CEO Gaido Connected Muhammad Nur Akbar.
Firmansyah mengatakan keberadaan layanan perjalanan haji dan umrah di Masjid Pantai Jembrana diharapkan menjadi pintu masuk untuk membangun ekosistem ekonomi yang lebih luas. Masjid, menurut dia, dapat mengambil peran dalam pengembangan ekonomi masyarakat tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai pusat ibadah.
“Kami bersyukur mendapatkan amanah ini. Kami akan segera menyusun program dan strategi bagaimana Masjid Pantai Jembrana Bali bukan sekadar tempat salat, tetapi menjadi masjid rahmatan lil alamin, masjid percontohan yang dapat menjadi destinasi wisata dunia sekaligus penggerak ekosistem haji dan umrah,” ujar Firmansyah.
Ia berharap gagasan tersebut mendapat dukungan dari BPKH, Gaido Group, pemerintah daerah, pelaku usaha, tokoh masyarakat, serta masyarakat Jembrana. Kolaborasi berbagai pihak dinilai menjadi kunci agar pengembangan masjid memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada warga sekitar.
Bidik Wisata Religi dan Halal
Bali selama ini menjadi salah satu destinasi pariwisata utama Indonesia dengan pasar wisatawan internasional yang besar. Kehadiran Masjid Pantai Jembrana diharapkan menambah alternatif destinasi wisata religi dan halal bagi wisatawan Muslim yang datang ke Pulau Dewata.
Konsep yang dirancang tidak hanya bertumpu pada aktivitas peribadatan. Pengembangan kawasan juga diarahkan untuk mengintegrasikan kuliner halal, produk UMKM Jembrana, kerajinan lokal, ekonomi kreatif, serta berbagai produk masyarakat Bali.
Dengan konsep tersebut, kawasan masjid diharapkan menjadi titik temu antara ibadah, pariwisata, perdagangan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pengembangan wisata halal juga diharapkan membuka peluang usaha serta menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat lokal.
Incar Investor Timur Tengah
Pengembangan ekonomi di sekitar Masjid Pantai Jembrana juga diarahkan untuk membuka peluang investasi dari luar negeri. Salah satu pasar yang dibidik adalah investor Timur Tengah, khususnya Arab Saudi.
Investasi tersebut antara lain diharapkan masuk pada sektor hotel, restoran, rumah sakit, dan fasilitas pendukung wisata halal lainnya. Namun, rencana tersebut masih berupa peluang yang akan dikembangkan melalui kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.
Selain investasi, perdagangan produk asal Bali ke Timur Tengah juga dinilai memiliki potensi besar. Produk makanan halal, kerajinan, dan hasil ekonomi kreatif masyarakat Jembrana dapat dikembangkan untuk memasuki pasar Arab Saudi.
Peluang tersebut antara lain dapat dikaitkan dengan kebutuhan jamaah haji dan umrah asal Indonesia serta masyarakat Indonesia yang tinggal di Timur Tengah. Dengan pasar yang besar, produk lokal dinilai memiliki peluang mendapatkan akses lebih luas apabila kualitas, kapasitas produksi, dan jaringan distribusinya diperkuat.
sumber : Antara

1 hour ago
5




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5692679/original/097423800_1778569231-1_1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547403/original/034869900_1775458279-pexels-crysnet-14537683.jpg)






