
Oleh: Yusuf Wibisono – Direktur Next Policy
REPUBLIKA.CO.ID, Pemerintah meyakini bahwa program andalan Presiden Prabowo, MBG (Makan Bergizi Gratis), telah berdampak positif bagi perekonomian dan mampu menurunkan kemiskinan. Pada Indonesia Economic Outlook 2026, Presiden Prabowo menyatakan telah menerima laporan dari banyak kepala daerah bahwa MBG berhasil menurunkan angka kemiskinan dan juga kesenjangan di banyak daerah.
Gubernur DKI Jakarta misalnya, mengklaim MBG telah menurunkan angka stunting dan kemiskinan di Jakarta. Sejak digulirkan pada Januari 2025, MBG kini diklaim telah memberi manfaat bagi 60 juta orang yang dilayani oleh 22 ribu mitra dapur (SPPG) yang menyerap hingga 925 ribu tenaga kerja.
Klaim dampak positif MBG terhadap kemiskinan secara umum bersesuaian dengan kecenderungan turunnya angka kemiskinan dalam setahun terakhir. Pada September 2024, sebelum MBG bergulir, angka kemiskinan tercatat 8,57 persen atau 24,06 juta orang. Pada Maret 2025, 3 bulan pasca MBG, angka kemiskinan turun menjadi 8,47 persen atau 23,85 juta orang.
Dan terakhir pada September 2025, 9 bulan pasca MBG, angka kemiskinan kembali turun menjadi 8,25 persen atau 23,36 juta orang. Namun, apakah benar angka kemiskinan menurun karena adopsi MBG?
Secara teoritis, dampak langsung (direct impact) dari program MBG terhadap kemiskinan akan terjadi melalui jalur turunnya pengeluaran pangan rumah tangga miskin serta penguatan ekonomi rakyat melalui pemanfaatan bahan pangan lokal, meluasnya kesempatan kerja bagi petani, terdorongnya ekonomi pedesaan dan semakin kuatnya ketahanan pangan. Sedangkan dampak tidak langsung (indirect impact) dari MBG terhadap kemiskinan akan terjadi melalui jalur naiknya tingkat partisipasi sekolah dan turunnya malnutrisi termasuk stunting di kalangan anak keluarga miskin, sehingga akan memutus rantai kemiskinan dalam jangka panjang.
Secara keseluruhan, melalui adopsi program MBG, diharapkan akan terjadi peningkatan kualitas pendidikan secara signifikan serta terciptanya rantai pasok yang masif untuk pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Namun kita melihat dampak MBG terhadap penanggulangan kemiskinan ini akan terbatas, setidaknya untuk dua alasan utama.
Pertama, MBG di desain sebagai program universal sehingga sebagai instrumen penanggulangan kemiskinan menjadi tidak efektif karena tingkat ketidaktepatan sasaran-nya sangat tinggi. Dengan desain sebagai program universal, ditujukan kepada semua balita dan anak usia sekolah, penerima manfaat MBG menjadi sangat terkonsentrasi di daerah-daerah padat penduduk terutama daerah perkotaan di Jawa yang secara umum tidak memiliki masalah dengan gizi anak.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
3














































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455219/original/006121400_1766639015-IMG-20251002-WA0019.jpg)


