REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gerakan Napak Tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) kini kembali membangkitkan kesadaran sejarah warga nahdliyin melalui rangkaian perjalanan spiritual dan intelektual di Jawa Timur. Inisiatif ini digagas oleh KH. M. Ali Cholil sebagai sebuah ikhtiar mendalam untuk merawat "sanad perjuangan" dan mengingat kembali momen-momen sakral menjelang kelahiran NU pada tahun 1924.
KH. M. Ali Cholil, yang merupakan Rois Syuriah PWNU Kalimantan Timur sekaligus cicit dari sang mahaguru Syaikhona Kholil Bangkalan, memandang napak tilas ini jauh melampaui ziarah biasa. Baginya, ini adalah upaya menyambungkan kembali ingatan kolektif warga NU dengan akar spiritual para muassis (pendiri).
“Perjalanan ini bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain, melainkan menggeser kesadaran melintasi zaman. Kami merasa seperti masuk ke dalam lorong waktu dan kembali ke tahun 1924, sebuah masa ketika NU masih berupa isyarah, amanah, dan wujud kepatuhan murni seorang santri kepada gurunya,” ungkap KH. M. Ali Cholil dengan khidmat pada Rabu (7/1/2026).
Ia menuturkan bahwa tahun 1924 adalah fase krusial dalam sejarah bangsa Indonesia. Kala itu, kelahiran NU secara resmi didahului oleh peristiwa simbolik yang agung: penyerahan tongkat dan tasbih dari Mbah Cholil Bangkalan kepada Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari melalui perantara Kiai As’ad Syamsul Arifin. Menurutnya, tanpa isyarah spiritual tersebut, sejarah NU tidak akan pernah terbentuk dengan fondasi kokoh sebagaimana yang dikenal dan dirasakan manfaatnya oleh umat hari ini.
Karenanya dia menegaskan amanah sebagai Rois Syuriah PWNU Kalimantan Timur masa khidmah 2023–2028 tidak dipahaminya sebagai jabatan struktural semata. Amanah tersebut dipandang sebagai tanggung jawab sejarah yang menyambung sanad perjuangan para ulama terdahulu.
“Jabatan ini bukan kehormatan pribadi, tetapi beban sejarah dan khidmah. Saya hanya penjaga mata rantai agar nilai-nilai para muassis tetap hidup di zaman yang berubah,” tuturnya.
Lebih lanjut dia menyebut, gagasan memperingati satu abad NU versi Miladiyah di Kaltim berangkat dari kesadaran simbolik Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai kota masa depan. Menurutnya, NU harus hadir bukan hanya sebagai organisasi tradisi, tetapi juga sebagai penunjuk arah peradaban.
“Ketika tidak ada dukungan formal, saya justru menangkap pesan batin bahwa khidmah tidak selalu menunggu legitimasi perayaan. NU lahir dari kesunyian, bukan dari panggung besar,” ucapnya.
Dia menyebut proses napak tilas ini melalui perjalanan panjang, mulai dari sowan ke para masyayikh, pertemuan lintas dzurriyah, hingga dinamika internal yang tidak selalu mudah. Namun seluruh proses itu dipahami sebagai bagian dari ujian keikhlasan dalam khidmah.
“Yang paling berat bukanlah perjalanan fisik, tetapi menjaga niat tetap lurus di tengah tarik-ulur dan keterbatasan. Di situlah saya belajar bahwa khidmah sejati sering kali berjalan tanpa sorotan,” katanya.
Dia juga menyoroti pengalaman rombongan PWNU dan PCNU se-Kalimantan Timur yang kerap tidak disebut secara simbolik dalam sejumlah titik ziarah. Meski demikian, hal itu justru memperdalam refleksi spiritual tentang makna menjadi perantara sejarah.
“Kami tidak datang untuk dipuji atau disanjung. Kami datang untuk silaturrahim, ta’aruf, dan ngalap barokah doa para dzurriyah muassis NU,” ungkapnya.
Meski begitu dia menegaskan bahwa ketidakhadiran simbolik tersebut justru membawanya pada kesadaran mendalam tentang ruh kelahiran NU. Menurutnya, pada tahun 1924 yang terpenting bukan siapa yang hadir, melainkan apa amanah yang diantarkan.
“Kami hanya perantara, sebagaimana Kyai As’ad dahulu. Sejarah sering kali tidak menuliskan nama perantara dengan tinta besar, tetapi Allah mencatatnya dengan keadilan,” ujarnya.
Dia menutup refleksinya dengan menyebut bahwa terdampar secara batin di tahun 1924 adalah sebuah kehormatan. Pada masa itulah NU masih murni sebagai amanah para wali dan ulama, jauh dari hiruk-pikuk kepentingan.
“Jika harus memilih, saya lebih memilih berada di tahun ketika NU lahir dengan kesederhanaan dan pengorbanan. Di sanalah kami belajar arti kebersamaan, solidaritas, dan keikhlasan sebagai fondasi bangsa,” pungkasnya.
sumber : Antara

1 day ago
4














































