REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengelolaan mineral strategis di Indonesia semakin progresif, ditandai dengan proyek hilirisasi yang terus berjalan sekaligus kuatnya kinerja operasional perusahaan-perusahaan tambang nasional.
Kinerja positif yang dibukukan perusahaan-perusahaan dalam Grup MIND ID sepanjang kuartal I 2026 menjadi sinyal kuat pengelolaan mineral strategis nasional akan memainkan peran semakin besar dalam memperkuat daya saing industri Indonesia dan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Di tengah tantangan ekonomi global dan tekanan pasar komoditas yang masih berlanjut, sejumlah anggota Grup MIND ID mampu mencatatkan pertumbuhan produksi dan penjualan yang solid.
Kinerja tersebut memperlihatkan komoditas strategis seperti timah, nikel, tembaga, emas, bauksit, alumina, dan batu bara tetap menjadi fondasi penting bagi pembangunan industri nasional.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch, Ferdy Hasiman, menilai, kinerja operasional anggota Grup MIND ID sepanjang tiga bulan pertama tahun ini menunjukkan arah yang positif dan konsisten.
Menurut dia, kuartal I ini lumayan bagus. Hanya mungkin belum terlalu maksimal karena Freeport belum maksimal produksinya.
‘’Kontribusi dividen dari Freeport lumayan besar. Lalu dari Antam, labanya besar. Saya juga mengapresiasi PT Timah. Ini sejarah karena baru kuartal I saja sudah mencetak laba lebih dari Rp 1 triliun. Ini sangat baik," ujar Ferdy dalam keterangan, Rabu (10/6/2026).
Salah satu capaian paling menonjol datang dari PT Timah Tbk. Perseroan berhasil meningkatkan produksi bijih timah hingga 96 persen menjadi 6.312 ton Sn dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3.224 ton.
Produksi logam timah juga meningkat 82 persen menjadi 5.630 metrik ton, sementara penjualan logam timah melonjak 113 persen menjadi 6.009 metrik ton. Kinerja ini memperlihatkan kian kuatnya posisi Indonesia sebagai salah satu produsen timah utama dunia.
Di sektor mineral hilir, PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) mencatatkan kemajuan signifikan pada bisnis bauksit dan alumina. Penjualan bauksit meningkat 9 persen menjadi 593.476 wet metric ton (wmt).
Sedangkan produksi Chemical Grade Alumina (CGA) naik 13 persen menjadi 49.566 ton dan penjualannya meningkat 11 persen menjadi 49.072 ton. Capaian ini menunjukkan semakin pentingnya peran hilirisasi dalam menciptakan nilai tambah mineral di dalam negeri.
Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk berhasil meningkatkan volume penjualan nikel 15 persen menjadi 45 ribu ton pada kuartal I 2026. Ini indikator kuat bahwa permintaan terhadap mineral kritis untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik dan energi bersih bertumbuh.
Di sisi lain, PT Freeport Indonesia masih menghadapi dampak insiden mud rush yang terjadi September 2025. Produksi tembaga tercatat 95 juta pound dan produksi emas 92 ribu ounce.
Meski demikian, perusahaan tetap mempertahankan operasional dan melanjutkan berbagai proyek strategis yang akan memperkuat posisi Indonesia dalam industri pengolahan tembaga dan logam mulia bernilai tambah.
Menurut Ferdy, capaian tersebut menunjukkan, komoditas strategis seperti nikel, emas, timah, tembaga, dan batu bara masih menjadi penopang penting bagi penguatan industri nasional.
Apalagi kebutuhan dunia terhadap mineral kritis terus meningkat seiring perkembangan industri kendaraan listrik, energi terbarukan, dan teknologi tinggi.
Selain didukung kinerja operasional, penguatan daya saing industri nasional juga ditopang sejumlah proyek strategis yang dijalankan anggota Grup MIND ID. Ini bagian dari upaya Indonesia Indonesia meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral melalui hilirisasi dan pengembangan industri pengolahan di dalam negeri.
Di sektor tembaga, PT Freeport Indonesia terus melanjutkan pengembangan tambang bawah tanah Grasberg di Papua serta pengoperasian fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik.
Kehadiran PMR menjadi tonggak penting karena memungkinkan pemurnian emas dan perak dilakukan di dalam negeri sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Pada komoditas batu bara, PT Bukit Asam (PTBA) melanjutkan pengembangan proyek hilirisasi Dimethyl Ether (DME) yang diproyeksikan menjadi substitusi impor LPG nasional. Proyek ini menjadi salah satu agenda strategis pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah batu bara sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
"Seperti proyek DME milik PTBA. Dana negara sudah dikucurkan melalui injeksi modal. Hanya pertanyaannya, apakah PTBA bisa melanjutkan proyek itu? Karena sebelumnya investor asing sudah mundur," kata Ferdy.
Meski demikian, ia berharap proyek tersebut berjalan dengan model bisnis yang sehat dan memberikan manfaat ekonomi optimal. "Kita berharap proyek ini memang ekonomis dan tidak membebani keuangan PTBA ke depan," ujarnya.
Di sektor mineral kritis, ANTAM mempercepat pengembangan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini bagian penting dalam meningkatkan nilai tambah bauksit nasional melalui produksi alumina di dalam negeri.
Selain itu, ANTAM terlibat dalam pembangunan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Halmahera Timur bersama Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Huayou, yang diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
"Lalu PT Antam di Halmahera Timur juga harus berjalan lebih baik. Selain itu ada proyek alumina di Mempawah yang harus segera diselesaikan. Kalau realisasi proyek-proyek tersebut berjalan cepat, ke depan kinerja mereka akan semakin baik," ujar Ferdy.
Sementara itu, PT Timah juga mulai mengembangkan potensi logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) melalui pengolahan mineral ikutan monasit. Meski masih berada pada tahap pilot project, pengembangan REE dinilai strategis karena komoditas tersebut menjadi bahan baku penting bagi industri elektronik, energi terbarukan, kendaraan listrik, hingga teknologi pertahanan.
"Proyek tanah jarang itu memang belum berjalan. Masih tahap pilot project. Cuma isunya sekarang, kalau memang mau berjalan, akan bermitra dengan siapa?" kata Ferdy.
Menurut dia, keberhasilan proyek-proyek hilirisasi mineral tidak hanya ditentukan oleh kesiapan perusahaan, tetapi juga kepastian regulasi dan iklim investasi yang kondusif. "Investasi akan berjalan kalau kebijakannya stabil. Kalau hari ini berubah, besok berubah lagi, investor akan memilih tidak masuk," ujarnya.
Ferdy menilai percepatan penyelesaian proyek-proyek strategis tersebut akan menjadi faktor penentu bagi kemampuan Indonesia keluar dari ketergantungan ekspor bahan mentah.
Semakin banyak komoditas yang diolah di dalam negeri, semakin besar nilai tambah, investasi, lapangan kerja, dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang dapat diciptakan.
Lebih lanjut, Ferdy menilai sinergi yang dibangun MIND ID sebagai holding industri pertambangan telah berjalan sesuai perannya dalam memperkuat ekosistem bisnis anggota grup.
"Sebenarnya dari awal sinerginya sudah bagus. MIND ID sudah berperan sebagai holding dan leader. Tugasnya mengontrol dan memastikan ekosistem berjalan dengan baik," katanya.
Kombinasi antara kinerja operasional yang solid, proyek hilirisasi yang terus bergerak, dan penguatan rantai pasok mineral strategis dinilai akan semakin memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Dengan fondasi tersebut, mineral strategis nasional tidak hanya menjadi sumber penerimaan negara, tetapi juga motor penggerak daya saing industri dan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.

6 hours ago
6













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509321/original/086615600_1771679962-SnapInsta.to_630114161_18162147202417018_2870114530835891224_n__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499312/original/081206000_1770782561-Depositphotos_132132754_XL.jpg)

