MTQ Banten 2026 dan Penguatan Ekosistem Alquran

11 hours ago 6

Oleh: Ahmad Tholabi Kharlie, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah dan Ketua Umum PW IPIM Banten

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, tradisi pembelajaran Al-Qur’an tetap menunjukkan daya hidup yang kuat di Provinsi Banten. Ribuan pemangku kepentingan dari pelbagai kabupaten dan kota kembali mempersiapkan diri untuk mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXIII Tingkat Provinsi Banten yang digelar pada 6-10 Juli 2026 di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Serang.

Perhelatan ini menghadirkan suasana yang selalu menarik perhatian masyarakat, karena di dalamnya bertemu semangat keagamaan, kebanggaan daerah, dan proses pembinaan generasi qurani yang berlangsung sepanjang tahun.

MTQ memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Banten. Tradisi tersebut tumbuh di atas fondasi sejarah yang panjang. Sejak masa Kesultanan Banten, wilayah ini dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan Islam di Nusantara.

Dari daerah ini lahir ulama-ulama besar yang memberikan pengaruh luas dalam khazanah keislaman Indonesia dan dunia Islam. Jaringan pesantren berkembang di pelbagai wilayah dan menjadi ruang tumbuhnya tradisi keilmuan yang terus bertahan hingga sekarang.

Warisan sejarah tersebut masih tampak dalam kehidupan masyarakat Banten hari ini. Data Kementerian Agama menunjukkan bahwa Banten memiliki sekitar 6.776 pondok pesantren, menjadikannya salah satu provinsi dengan jumlah pesantren terbesar di Indonesia. Ribuan lembaga pendidikan keagamaan itu menjadi infrastruktur sosial yang menopang pembelajaran Al-Qur’an, pendidikan akhlak, dan kaderisasi ulama di pelbagai daerah.

Di antara tokoh yang paling merepresentasikan otoritas keilmuan Banten adalah Syekh Nawawi al-Bantani (1813–1897), ulama besar asal Tanara yang karya-karyanya menjadi rujukan di pelbagai pesantren di Indonesia, Asia Tenggara, hingga Timur Tengah. Puluhan kitab yang ditulisnya dalam bidang tafsir, fikih, tasawuf, dan akidah menempatkan dirinya sebagai salah satu ulama Nusantara yang memperoleh pengakuan luas dalam jaringan keilmuan Islam dunia.

Kehadiran Syekh Nawawi menunjukkan bahwa tradisi keislaman Banten sejak lama berkembang dalam ruang intelektual yang terbuka, dialogis, dan berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Jejak intelektual Syekh Nawawi memberikan pelajaran penting bahwa hubungan masyarakat Banten dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada aspek tilawah, melainkan tumbuh dalam tradisi pemahaman, pengajaran, dan pengembangan ilmu.

Dari rahim tradisi yang sama lahir pelbagai pesantren, majelis ilmu, serta lembaga pendidikan Islam yang terus menjaga kesinambungan transmisi keilmuan antargenerasi. Dalam perspektif ini, MTQ dapat dipandang sebagai bagian dari mata rantai panjang peradaban keilmuan yang telah berakar kuat dalam sejarah Banten.

Dalam perspektif pembangunan daerah, modal sosial tersebut merupakan aset yang sangat berharga. Identitas religius Banten memperoleh pijakan yang kuat dari tradisi pesantren, majelis taklim, pendidikan Al-Qur’an, dan hubungan yang erat antara ulama dan masyarakat. MTQ hadir sebagai ruang yang mempertemukan seluruh elemen tersebut dalam satu momentum bersama.

Identitas Banten

Penyelenggaraan MTQ Provinsi Banten 2026 di Kompleks Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) mengandung makna simbolik yang penting. Kawasan tersebut merupakan pusat aktivitas pemerintahan daerah, tempat pelbagai kebijakan pembangunan dirumuskan dan dijalankan. Kehadiran MTQ di lingkungan pemerintahan menunjukkan bahwa pembangunan daerah memiliki keterkaitan yang erat dengan penguatan nilai-nilai moral, pendidikan, dan kebudayaan masyarakat.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |