Optimisme Swasembada di Tengah Dinamika Alam

1 day ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah tantangan iklim yang tak menentu, sebuah optimisme baru sedang tumbuh dari hamparan sawah di pelosok Nusantara. Indonesia kini tidak hanya sedang bermimpi tentang swasembada pangan berkelanjutan, tetapi sedang melangkah nyata di jalur yang tepat.

Dengan grafik produksi yang terus merangkak naik dan keterlibatan generasi muda yang kian masif, kedaulatan pangan bukan lagi sekadar slogan, melainkan sebuah kepastian yang sedang kita bangun bersama. Setiap butir gabah yang menguning hari ini adalah pesan kuat bahwa negeri ini memiliki kapasitas untuk mandiri, berdaya, dan menjadi lumbung pangan yang tangguh bagi rakyatnya sendiri.

Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksikan produksi padi pada November 2025 diperkirakan mencapai 3,2 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). "Produksi padi November 2025 diperkirakan mencapai 3,2 juta ton GKG, atau meningkat sebesar 2,83 persen dibandingkan November tahun lalu," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, di Jakarta, Senin (5/1/2026).

Potensi produksi padi untuk periode Desember 2025 hingga Februari 2026 diperkirakan jauh lebih melonjak, yakni mencapai 10,81 juta ton GKG. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 32,58 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dengan demikian, total potensi produksi padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 diperkirakan menembus 60,25 juta ton GKG, naik 13,37 persen dari tahun 2024.

Meskipun data menunjukkan tren positif, BPS mengingatkan bahwa angka sementara dan potensi produksi ini bersifat dinamis. Perubahan tetap mungkin terjadi sesuai kondisi riil di lapangan, seperti ancaman serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), dampak banjir, kekeringan, hingga ketepatan waktu realisasi panen oleh petani.

Sejalan dengan peningkatan produksi, luas panen padi pada November 2025 tercatat sebesar 0,57 juta hektare, naik 3,56 persen dibanding tahun lalu. Potensi luas panen tiga bulan berikutnya pun diperkirakan mencapai 2 juta hektare. Secara akumulatif, potensi luas panen sepanjang Januari-Desember 2025 diperkirakan mencapai 11,33 juta hektare, tumbuh 12,80 persen dibandingkan tahun 2024.

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui program optimasi lahan terus mendorong produktivitas melalui kenaikan indeks pertanaman di lahan sawah eksisting. Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Hermanto, menegaskan bahwa optimasi lahan adalah strategi utama untuk menggenjot produksi tanpa harus merusak hutan atau membuka lahan baru secara serampangan.

Ia menjelaskan, optimasi ini dilakukan melalui perbaikan menyeluruh pada infrastruktur pertanian. Hal ini mencakup penyusunan Survei, Investigasi, dan Desain (SID) pembangunan, serta rehabilitasi tanggul, pintu air, hingga jaringan irigasi dan drainase di tingkat usaha tani untuk memastikan distribusi air berjalan optimal.

Read Entire Article
Food |