Pakar: Rekonstruksi Pascabencana Bisa Picu Pertumbuhan Ekonomi

4 days ago 5

Sejumlah warga berada di bantaran sungai Batang Air Dingin, Kampung Apa, Padang, Sumatera Barat, Selasa (30/12/2025). Curah hujan tinggi sejak Selasa (30/12/2025) siang membuat air sungai kembali meluap dan mengancam bangunan di bantaran sungai yang sudah terdampak banjir bandang bulan lalu dan membuat sebagian warga mengungsi.

REPUBLIKA.CO.ID, KOTA PADANG -- Pakar ekonomi dari Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat (Sumbar), Efa Yonnedi menyebut proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di tiga provinsi terdampak berpotensi memicu pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

“Dengan dimulainya kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi maka akan ada pertumbuhan ekonomi dari sektor belanja,” kata pakar ekonomi UNAND Efa Yonnedi di Kota Padang, Selasa (6/1/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan menyikapi potensi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada akhir 2025.

Mantan konsultan Bank Dunia itu mencontohkan pengalaman Sumatera Barat ketika diguncang gempa bumi pada 2009. Saat itu, pertumbuhan ekonomi mulai membaik ketika memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Namun, ia mengakui dalam jangka pendek kekacauan akibat bencana gempa bumi sempat menyebabkan pertumbuhan ekonomi di Ranah Minang terkoreksi. Kondisi tersebut dinilai wajar dan umumnya terjadi di setiap daerah setelah dilanda bencana.

“Pada awalnya pertumbuhan ekonomi memang terkoreksi, tetapi dengan adanya belanja pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi, pertumbuhan ekonomi mulai terlihat,” ujarnya.

Oleh karena itu, Efa yang juga menjabat Rektor UNAND optimistis pertumbuhan ekonomi di tiga provinsi terdampak bencana ekologis tersebut dapat segera pulih dan kembali tumbuh seiring pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi oleh pemerintah.

Meski demikian, Efa menggarisbawahi bahwa khusus di Kabupaten Aceh Tamiang dan sejumlah daerah yang terdampak sangat parah, dibutuhkan waktu serta intervensi lebih besar agar pertumbuhan ekonomi dapat berjalan sesuai target.

“Saya melihat khusus di Aceh memang agak berat, dan kita memiliki waktu sekitar tiga tahun untuk menormalisasi kondisi agar logistik dan infrastruktur ekonomi bisa secepatnya pulih,” jelasnya.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |