Pejabat tanpa Tenda, Kesetaraan pun Tampak

8 hours ago 10

Image Arinafril - Dosen, Pemerhati Pendidikan

Edukasi | 2026-08-23 11:38:16

Keputusan beberapa pejabat untuk meninggalkan tenda VIP dalam upacara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia menandai momen yang layak direnungkan dengan serius. Perubahan tata letak sederhana sesungguhnya menyentuh inti persoalan yang lebih dalam mengenai cara kekuasaan memahami posisi di hadapan rakyat yang selama ini menerima ketidaknyamanan sebagai bagian dari partisipasi publik.

Upacara Bendera HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Stadion Pangkallalang, Tanjungpandan, Belitung, Senin (17/8/2026). Tanpa tenda, kursi, makanan dan minuman, untuk perjabat. (Foto: Doddy/BE)

Beberapa foto dan video yang merekam momen tersebut bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan undangan untuk memikirkan ulang makna kebersamaan dalam ruang kenegaraan.

Tubuh dan Matahari yang Sama

Tenda VIP selama ini berfungsi sebagai perangkat yang memisahkan pengalaman tubuh. Perangkat tersebut melindungi sebagian orang dari paparan matahari sambil menempatkan sebagian besar warga dalam posisi yang harus menerima panas sebagai kewajaran. Sekat itu dibongkar, sehingga terjadi bukan hanya perubahan posisi fisik, melainkan pembukaan ruang bagi pertanyaan mendasar mengenai kenyamanan dalam ruang publik.

Apakah kenyamanan tersebut merupakan hak istimewa atau seharusnya menjadi kondisi bersama? Pertanyaan ini tidak ditujukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengajak pejabat, penyelenggara, dan masyarakat melihat bahwa kesetaraan yang sejati dimulai dari kesediaan merasakan kondisi yang sama.

Penghapusan tenda VIP merupakan pengakuan implisit terhadap alienasi yang selama ini terjadi. Pejabat yang terbiasa berada di ruang terlindung sesungguhnya kehilangan akses terhadap pengalaman sensorik yang membentuk kesadaran sebagian besar warga.

Berdiri di bawah matahari yang sama membuka kemungkinan untuk memahami realitas sosial bukan dari jarak yang aman, melainkan dari dalam aliran pengalaman yang sama. Langkah ini mendidik, karena pengetahuan yang lahir dari tubuh yang merasakan panas berbeda kualitasnya dari pengetahuan yang hanya diamati dari balik tirai.

Dimensi temporal juga muncul di sini. Generasi yang menyaksikan pejabat berdiri di bawah matahari mungkin akan mengingatnya sebagai titik balik simbolik, sementara generasi pejabat yang mengalaminya langsung akan membawa memori tubuh tersebut ke dalam pengambilan keputusan di masa depan.

Memori ini bersifat asimetri, namun justru karena itu memiliki daya untuk menginspirasi dialog lintas generasi tentang arti sesungguhnya dari kebersamaan.

Perlu digarisbawahi bahwa tenda, kursi, serta makanan dan minuman tetap disediakan khusus bagi peserta upacara wanita yang hamil, pensiunan yang sudah tua dan para veteran. Penyediaan fasilitas tersebut menjadi bukti nyata penghargaan atas jasa dan pengorbanan yang telah diberikan sepanjang perjalanan bangsa.

Penghormatan ini menunjukkan bahwa kesetaraan tidak berarti mengabaikan kebutuhan kelompok yang memang memerlukan perhatian khusus. Sebaliknya, penghormatan tersebut mempertegas bahwa ruang publik dapat dirancang dengan mempertimbangkan martabat setiap kelompok sesuai kondisi fisik dan sejarah pengabdian masing-masing.

Jarak Simbolik Bersama

Kesetaraan yang ditampilkan masih bersifat episodik. Kejadian tersebut terjadi dalam batas waktu dan ruang upacara, sementara struktur yang lebih luas masih memelihara jarak dalam bentuk lain. Justru di sinilah letak potensinya. Setiap gestur kesetaraan, sekecil apa pun, dapat menjadi titik awal untuk membayangkan perluasan prinsip yang sama ke domain lain.

Kenyamanan fisik dapat ditangguhkan demi kebersamaan, maka pertanyaan yang menginspirasi adalah seberapa jauh kesediaan untuk meninjau ulang fasilitas, akses, dan prioritas dalam kehidupan bernegara sehari-hari.

Praktik ini menunjukkan bahwa kekuasaan memiliki kapasitas untuk beradaptasi. Alih-alih mempertahankan jarak secara kaku, kekuasaan memilih untuk menguasai narasi kedekatan. Hal ini tidak perlu dibaca sebagai tipu daya, melainkan sebagai peluang. Kekuasaan bersedia menampilkan diri dalam posisi yang rentan, sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk merespons dengan harapan yang lebih tinggi, bukan dengan kecurigaan yang merendahkan.

Respons yang membangun adalah menuntut agar gestur tersebut menjadi awal dari perubahan yang lebih konsisten. Penghapusan tenda VIP secara tidak langsung mengakui bahwa ruang publik selama ini telah memproduksi ketidaksetaraan melalui arsitektur kenyamanan. Sekat tersebut dibongkar, terbuka kemungkinan untuk membayangkan ulang ruang publik sebagai arena di mana kenyamanan tidak lagi menjadi komoditas yang didistribusikan berdasarkan status.

Ajakan ini mendorong perancangan upacara, forum, dan pertemuan kenegaraan yang lebih inklusif sejak tahap perencanaan, bukan hanya pada momen puncak.

Kesetaraan yang Meminta Lebih dari Sekadar Gestur

Terdapat potensi untuk menghasilkan bentuk kesadaran kolektif yang baru. Pejabat dan rakyat berdiri dalam kondisi yang sama, sehingga terbentuk bukan hanya citra, melainkan kontrak sensorik. Kontrak ini mengingatkan bahwa tubuh manusia, terlepas dari jabatan, memiliki batas yang sama terhadap panas, lelah, dan ketidaknyamanan.

Pengingat ini dapat menjadi landasan untuk membangun empati yang lebih dalam, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai pengalaman yang pernah dirasakan bersama.

Keputusan tersebut membuka ruang bagi harapan yang realistis. Transformasi instan tidak dijanjikan, namun perubahan simbolik dapat terjadi ketika ada keberanian untuk melepaskan privilegium yang selama ini dianggap wajar. Keberanian ini layak diapresiasi sebagai langkah awal, sambil terus diajak berkembang menjadi praktik yang lebih luas dan berkelanjutan.

Momen ini menantang agar tidak berhenti pada apresiasi visual. Apresiasi yang mendidik adalah yang mampu melihat gestur tersebut sebagai undangan untuk menuntut konsistensi. Kesetaraan dapat diwujudkan dalam upacara, maka prinsip yang sama juga layak diperjuangkan dalam kebijakan yang menyentuh kehidupan sehari-hari warga, mulai dari akses pendidikan, kesehatan, hingga ruang terbuka hijau yang nyaman bagi semua.

Kesadaran kolektif yang lahir dari pengalaman bersama ini memiliki daya untuk mengubah cara pandang terhadap relasi antara kekuasaan dan rakyat. Pengalaman tubuh yang sama menciptakan landasan empati yang lebih otentik dibandingkan sekadar wacana formal. Empati tersebut kemudian dapat menjadi modal untuk mendorong kebijakan yang lebih adil dan ruang publik yang benar-benar inklusif.

Perubahan simbolik yang terjadi pada upacara kemerdekaan memiliki potensi untuk merembes ke dalam praktik pemerintahan sehari-hari jika disertai dengan komitmen yang konsisten.

Tantangan ke depan terletak pada kemampuan untuk menjaga agar momen ini tidak berhenti sebagai episode estetis. Dialog yang lebih jujur perlu terus digalakkan, kebijakan yang lebih adil perlu dirumuskan, dan ruang publik yang benar-benar milik bersama perlu diwujudkan.

Kesetaraan adalah Komitmen

Matahari yang sama menyinari semua peserta upacara, dan dari situ muncul pelajaran bahwa kesetaraan bukanlah hadiah yang diberikan, melainkan komitmen yang terus diperbarui melalui tindakan nyata. Setiap langkah kecil menuju kesetaraan, termasuk penyediaan fasilitas khusus bagi veteran dan peserta lansia, memperkuat fondasi penghormatan yang seimbang antara kesamaan dan perbedaan kebutuhan.

Secara keseluruhan, upacara tanpa tenda, kursi, dan makanan minuman untuk perjabat, tak hanya merekam bukan sekadar perubahan protokol, melainkan kemungkinan baru dalam cara memahami relasi antara kekuasaan dan rakyat. Kesetaraan yang ditampilkan masih terbatas, namun jejak visualnya memiliki daya tahan yang lebih panjang daripada tenda yang digantikannya. Titik tolak ini diharapkan mampu mendorong dialog yang lebih jujur, kebijakan yang lebih adil, dan ruang publik yang benar-benar inklusif.

Di bawah matahari yang sama, pelajaran berharga terus mengalir bahwa kesetaraan merupakan komitmen yang harus senantiasa diperbarui melalui tindakan konkret dan penghormatan yang tulus kepada semua pihak, termasuk mereka yang telah berjasa dan mereka yang memerlukan perhatian khusus.

Tanpa tenda untuk pejabat. Semua sama-sama di bawah matahari. Karena kehormatan bukan soal teduh, tapi soal berdiri bersama dalam pengabdian.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Food |