Agama | 2026-07-30 16:51:43
Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Founder Insani Leadership)
“Leaders Eat Last”, demikian judul buku New York Times Best Seller yang ditulis Simon Sinek. Dalam buku tersebut, Simon menulis prinsip dan seni kepemimpinan. Pada masa-masa perjuangan sebuah perusahaan atau organisasi, pemimpin adalah orang yang paling depan menghadang bahaya. Ia mengesampingkan kepentingan dirinya demi melindungi timnya. Pemimpin sigap mengorbankan miliknya demi menyelamatkan milik timnya. Ia tidak akan pernah mengorbankan timnya demi menyelamatkan dirinya.
Kemudian, ketika perusahaan atau organisasi telah mencapai kesuksesan, maka pemimpin adalah orang paling akhir yang menikmati kesuksesan itu. Ia memastikan dulu timnya merasakan kesejahteraan, barulah dia merasakannya. Dengan ungkapan lain, pemimpin makan paling akhir. Demikian tulis Simon Sinek dalam bukunya.
Saya tidak tahu apakah Simon Sinek sempat membaca Sirah Nabawiyah? Sepertinya tidak. Namun demikian, apa yang ditulis Simon dalam bukunya itu telah diajarkan dan diteladankan Rasulullah jauh empat belas abad lalu. Hanya, kita yang rabun dalam membaca Sirah Nabawiyah. Kita sekadar membaca tanpa merenungkan dan mengambil pelajaran.
Kita tidak paham framework (kerangka berpikir) membaca sirah dan sejarah. Padahal, hal ini sudah dijelaskan dalam surat Yusuf ayat 111. Kita membaca sirah dan sejarah untuk memetik pelajaran (ibrah). Diksi yang dipilih Al-Qur’an adalah ibrah. Derivasi dari ibrah dalam bentuk isim makan (kata benda yang menunjukan makna tempat) adalah ma’bar. Arti ma’bar adalah jembatan.
Kita paham fungsi jembatan adalah menghubungkan titik awal kepada titik ujung. Demikianlah sejarah laiknya jembatan yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu. Masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang bukanlah satuan waktu yang terpisah. Ia seperti lorong waktu yang terhubung membangun lintasan kehidupan.
Kita bisa menengok ke masa lalu melalui sejarah untuk mengambil pelajaran, memahami pola-pola kehidupan, sebagai tools membaca masa kini dan merekayasa masa depan. Inilah framework membaca dan belajar sirah dan sejarah.
Kembali pada buku Simon, Leaders Eat Last. Jika Anda pembaca Sirah Nabawiyah yang cerdas, maka akan menemukan prinsip kepemimpinan yang ditulis Simon telah diajarkan dan diteladankan Rasulullah.
Begini kisahnya, pada tahun ke-5 hijriah, negara Madinah menghadapi ancaman serius dengan bergabungnya pasukan kafir Quraisy bersama suku-suku di sekitar Madinah. Mereka bermufakat berkoalisi untuk mengepung dan menghancurkan Madinah.
Menghadapi ancaman serius itu, Rasulullah sebagai pemimpin negara, mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah merumuskan strategi menghadapi kepungan pasukan sekutu (ahzab). Singkatnya, disepakatilah usulan Salman al-Farisi agar umat Islam membuat parit yang mengitari bagian selatan Madinah. Dengan demikian, pasukan ahzab yang dari selatan tidak bisa bergerak ke utara memasuki wilayah Madinah.
Menggali parit dengan kontur tanah Madinah yang berpasir dan berbatu jelas tidak mudah. Setelah dianalisis, parit yang harus digali sepanjang 5,5 km, lebar 4,6 m, dan kedalaman 3,3 m. Dengan lebar segitu kuda pasukan ahzab tidak akan mampu menyebrang. Jika ada yang nekat menyebrang, kuda akan terjatuh ke dalam parit. Dengan kedalaman parit tersebut, kuda tidak bisa mendaki. Dalam posisi seperti itu, pasukan muslim tinggal menyerangnya dengan memanahnya.
Rasulullah membuat shift para petugas penggali parit. Sehingga, penggalian parit berjalan terus menerus demi mengejar target waktu selesai sebelum pasukan ahzab mendekati teritori Madinah. Apakah sebagai pemimpin tertinggi, Rasulullah hanya memberikan arahan dan instruksi tanpa turun lapangan? Tidak!
Rasulullah turun langsung menggali parit bersama para sahabat. Bahkan, setiap kali penggalian parit terhalang bebatuan keras dan sahabat tidak mampu memecahkan bebatuannya, Rasulullah-lah yang menghantamkan palunya bertubi-tubi untuk menghancurkan batu itu.
Salah satu tantangan proses penggalian parit adalah musim dingin dan terbatasnya logistik makanan karena bukan musim panen. Rasulullah dan para sahabat sangat berhemat untuk menjaga kecukupan logistik. Karena itulah, seringkali para sahabat menahan lapar.
Satu hari para sahabat yang lapar hendak mengadu kepada Rasulullah untuk meminta makanan. Namun, demi melihat ikat pinggang Rasulullah yang diganjal tiga batu, para sahabat urung mengadu. Para sahabat menyadari ternyata Rasulullah lebih lama menahan lapar. Mereka hanya mengganjal ikat pinggangnya dengan satu batu, sementara Rasulullah mengganjalnya dengan tiga batu.
Dalam situasi seperti itu, Jabir bin Abdullah merasa iba kepada Rasulullah. Ia minta izin untuk pulang sejenak ke rumahnya. Sesampainya, Jabir bertanya kepada istrinya barangkali ada sisa makanan yang bisa dimasak untuk Rasulullah.
“Kita masih memiliki seekor anak kambing betina dan satu sha’ gandum,” terang istrinya.
“Masaklah. Aku ingin mengundang Rasulullah dan beberapa sahabat makan,” tegas Jabir.
Kemudian, Jabir mengundang Rasulullah untuk makan di rumahnya. Jabir mempersilakan Rasulullah mengajak beberapa sahabat. Apa yang terjadi? Rasulullah mengajak semua sahabat yang bertugas menggali parit yang jumlahnya tiga ratusan orang (riwayat lain menyebutkan 800 orang) untuk makan di rumah Jabir. Terang saja Jabir ketar ketir. Mana mungkin makanannya akan cukup. Rasulullah memahami raut muka Jabir. Beliau menghampiri dan menenangkan. Seolah memberikan garansi atas kekhawatiran Jabir.
Rasulullah diikuti Jabir masuk lebih dulu ke rumah. Rasulullah memberikan arahan agar hanya beliau yang membuka periuk. Sementara, para sahabat duduk melingkar tujuh atau delapan orang. Kemudian, Rasulullah sendiri yang memberikan roti dan daging kambing itu kepada setiap kelompok sahabat. Menyusul memberikan jatah Jabir dan keluarganya. Setelah semua sahabat dan Jabir sekeluarga mendapatkan makanan, barulah Rasulullah makan. Beliau orang terakhir yang menikmati makanan.
Ajaib, makanan itu cukup. Ini merupakan salah satu mukjizat Rasulullah. Namun demikian, bukan tentang ini yang menjadi angel pembahasan kita. Karena, mukjizat bagi seorang rasul adalah niscaya. Yang jauh lebih mengagumkan adalah tentang nilai dan prinsip kepemimpinan yang diajarkan dan diteladankan Rasulullah.
Pada proses penggalian parit, Rasulullah turun langsung ke lapangan. Turut serta dan bahkan terdepan dalam menggali parit. Mengatasi permasalahan (menghancurkan bebatuan) yang tidak mampu diatasi para sahabat. Menahan rasa lapar melebihi para sahabat. Namun, ketika ada rezeki makanan, Rasulullah mengutamakan semua sahabatnya. Beliau makan paling akhir.
Demikianlah seorang pemimpin sejati. Saat masa-masa sulit, dia terdepan memimpin timnya berjuang melewati masa sulit. Ia menanggung beban dan tanggung jawab lebih berat daripada timnya. Namun, ketika masa kesuksesan tiba sebagai buah dari perjuangan, pemimpin sejati menikmati paling akhir setelah semua timnya atau rakyatnya menikmatinya. Ia memastikan kesejahteraan rakyatnya lebih dulu, baru merasakan kesejahteraan.
Lantas, jika Anda seorang pemimpin, pada level apapun kepemimpinannya, sudahkah Anda melaksanakan nilai dan prinsip kepemimpinan Rasulullah di atas? Pastinya berat. Demikianlah pemimpin sejati. Karenanya, golongan pertama dari tujuh golongan yang mendapat naungan pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

8 hours ago
14






































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510193/original/003574000_1771822191-pexels-shameel-mukkath-3421394-5817525.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5536549/original/029350900_1774329970-pexels-elletakesphotos-5764077.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559034/original/060735700_1776504757-pexels-loquellano-16123121.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533152/original/011571400_1773724986-view-delicious-goulash-with-herbs.jpg)




