REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Aksi militer Amerika Serikat (AS) menyerang dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1/2025) menjadi pesan kuat bagi para pemimpin di dunia khususnya 'musuh-musuh' Paman Sam bagaimana seorang kepala negara dengan mudahnya bisa ditangkap, sementara hukum internasional cuma tegas di atas kertas. Termasuk bagi Presiden Korea Utara, Kim Jong-un, yang menurut ahli Korea Selatan, menjadi yakin senjata nuklir sangat esensial sebagai alat mempertahankan kekuasaan.
Menurut Lim Eul-chul, seorang profesor Institut Studi Timur Jauh dari Universitas Kyungnam operasi AS di Venezuela dapat mengirim dua pesan kuat kepada Kim: sebuah "ancaman eksistensial" dan sebuah "justifikasi terhadap obsesi nuklir".
"Penangkapan memalukan terhadap Maduro sepertinya akan menjadi jejak yang lebih menentukan terhadap keyakinan Kim Jong-un bahwa menyerahkan senjata nuklir akan berujung pada bunuh diri," kata Lim, dikutip Korea Herald, Senin (5/1/2026).
"Ini akan menjadikan negosiasi denuklirisasi di Semenanjung Korea akan semakin sulit," kata Lim, menambahkan.
Lim menilai, dampak psikologis terhadap Kim bisa jadi teramplifikasi oleh hubungan hangat yang telah lama terjalin antara Korut dan Venezuela, sejak 1974, sebagai bagian dari terbentuknya front anti-AS. Kedua negara diketahui sama-sama menghadapi sanksi dunia yang dipimpin AS dan secara reguler bertukar pesan selamat dalam momen-momen kenegaraan.
Fakta bahwa Venezuela tidak mampu menghadirkan perlawanan berarti terhadap operasi militer AS, Lim melanjutkan, menambah obsesi Kim Jong-un terhadap persenjataan nuklir meningkat. Dan diketahui, Pyongyang telah lama berargumen bahwa penguatan kemampuan militer khususnya kekuatan nuklir adalah esensial untuk melawan ancaman AS.
Analisis Lim sejalan dengan respons Korut atas situasi geopolitik dunia saat ini. Menurut laporan Korean Central News Agency (KCNA), Korut pada Senin mengeklaim telah berhasil menggelar tes rudal hipersonik menargetkan beberapa target di Laut Timur, di mana latihan itu dihadiri langsung oleh Kim Jong-un.
Menurut KCNA, peluncuran rudal-rudal hipersonik itu dijalankan oleh sebuah subunit di bawah kendali sebuah satuan penembak rudal Angkatan Bersenjata Rakyat Korea. Tujuannya sebagai asesmen terhadap kemampuan penangkal perang, kesiapan sistem, dan pelaksanaan sebuah misi.

1 day ago
6








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344879/original/037827700_1757495713-Kota_Semarang.jpg)






