REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Harga minyak dunia melemah pada Selasa (6/1/2026) seiring pelaku pasar mencermati potensi peningkatan produksi minyak mentah Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat. Prospek bertambahnya pasokan global tersebut menambah tekanan di tengah perkiraan permintaan yang masih lemah sepanjang tahun ini.
Harga minyak mentah Brent turun 0,2 persen menjadi 61,62 dolar AS per barel pada pukul 01.03 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 0,3 persen ke level 58,15 dolar AS per barel.
Analis Marex, Ed Meir, menilai peningkatan produksi minyak Venezuela berpotensi menekan pasar yang sudah kelebihan pasokan.
“Jika skenario kebijakan Presiden Trump benar-benar berjalan, meski hanya sebagian, produksi minyak mentah Venezuela kemungkinan meningkat. Jika produksi naik, tekanan akan bertambah pada pasar yang sudah kelebihan pasokan,” ujar Meir.
Produksi minyak Venezuela diketahui merosot dalam beberapa dekade terakhir akibat salah kelola, minimnya investasi asing pascanasionalisasi industri minyak, serta sanksi Amerika Serikat.
Survei Reuters terhadap pelaku pasar pada Desember lalu menunjukkan harga minyak diperkirakan tetap berada di bawah tekanan pada 2026 akibat meningkatnya pasokan dan lemahnya permintaan global.
Tekanan harga tersebut kini berpotensi meningkat setelah penangkapan Presiden Venezuela pada Sabtu lalu, yang membuka peluang berakhirnya embargo minyak Amerika Serikat terhadap Venezuela dan meningkatkan kemungkinan kenaikan produksi.
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan berencana menggelar pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak AS pekan ini untuk membahas peningkatan produksi minyak Venezuela, menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut.
Pada sesi perdagangan sebelumnya, harga minyak sempat menguat lebih dari 1 persen setelah investor mencermati kabar penangkapan Maduro dan pernyataan Amerika Serikat terkait rencana pengambilalihan kendali atas Venezuela. Nicolas Maduro pada Senin menyatakan tidak bersalah atas dakwaan narkotika yang dialamatkan kepadanya.
Venezuela merupakan salah satu pendiri Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar 303 miliar barel. Namun, sektor minyak negara tersebut telah lama mengalami penurunan akibat kurangnya investasi dan sanksi Amerika Serikat.
Produksi rata-rata minyak Venezuela pada tahun lalu tercatat sekitar 1,1 juta barel per hari. Sejumlah analis memperkirakan produksi Venezuela dapat meningkat hingga 500 ribu barel per hari dalam dua tahun ke depan jika stabilitas politik terjaga dan investasi Amerika Serikat masuk.
“Dalam jangka panjang, keinginan pemerintah Amerika Serikat untuk meningkatkan pasokan minyak Venezuela berpotensi memberikan tekanan negatif tambahan bagi pasar,” tulis Citigroup dalam catatan kepada kliennya.
sumber : REUTERS/ANTARA

5 days ago
4













































