Penjahat Perang Netanyahu Bangga Berhasil Setop Armada Sumud Global

13 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin mengatakan pasukan komando Israel telah “menghentikan” kapal-kapal dari armada Global Sumud Flotilla agar tidak mencapai Gaza. Israel mulai mencegat kapal-kapal tersebut pada Senin pagi di perairan internasional, sekitar 250 mil laut dari pantai Gaza, menurut pihak Global Sumud Flotilla.

Para aktivis dan tenaga medis berlayar dengan lebih dari 50 kapal armada kemanusiaan dari pesisir Marmaris, Turki, Kamis lalu. Misi itu merupakan upaya ketiga untuk menembus blokade laut Israel terhadap Gaza sekaligus mengirim bantuan bagi warga Palestina.

“Kami menghentikan armada yang menuju para teroris di Gaza,” tulis Netanyahu melalui Telegram.

Dilansir Xinhua, Netanyahu juga merilis rekaman video saat dirinya berbicara dengan komandan pasukan komando angkatan laut Israel ketika operasi pengambilalihan kapal berlangsung. Dalam video tersebut, Netanyahu tampak memantau operasi dari markas militer di Tel Aviv dan memerintahkan komandan agar “melanjutkan hingga selesai.”

Ia menyebut armada tersebut sebagai “rencana jahat untuk menembus isolasi yang kami berlakukan terhadap militan Hamas di Gaza.”

Netanyahu saat ini masih berstatus buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sehubungan kejahatannya mendalangi genosida di Gaza.

Kabar pencegatan oleh Israel dilansir panitia pelayaran pada Senin pagi. “Kapal-kapal militer saat ini sedang mencegat armada kami dan pasukan (Israel) mulai menaiki kapal pertama kami di siang bolong,” demikian pernyataan Global Sumud Flotilla melalui platform X.

“Kami menuntut jalur aman bagi misi kemanusiaan kami yang sah dan tanpa kekerasan,” lanjut pernyataan itu.

Siaran langsung dari sejumlah kapal memperlihatkan pasukan komando menaiki kapal saat para aktivis duduk di geladak dengan tangan terangkat.

Sebelumnya pada Senin, Kementerian Luar Negeri Israel meminta para aktivis “mengubah haluan dan segera kembali,” seraya mengecam armada tersebut sebagai “provokasi.”

Armada sebelumnya yang terdiri atas sekitar 20 kapal dan 175 aktivis juga dicegat pasukan Israel pada 30 April lalu di dekat Pulau Kreta, Yunani bagian selatan. Dua aktivis sempat ditahan selama beberapa hari sebelum dibebaskan. Puluhan aktivis lain mengaku mengalami perlakuan buruk, kekerasan, dan pemukulan oleh pasukan Israel.

Armada yang membawa bantuan dan tenaga medis itu menyatakan bertujuan menarik perhatian internasional terhadap kondisi memprihatinkan di Gaza, ketika sebagian besar wilayah kantong tersebut telah hancur akibat perang. Otoritas kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 72.763 orang tewas akibat serangan Israel sejak Oktober 2023, sementara 172.664 lainnya mengalami luka-luka.

Read Entire Article
Food |