Rentetan Hasi Buruk Paksa Manajemen Chelsea Depak Pelatih Enzo Maresca

5 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Chelsea resmi mengakhiri kerja sama dengan Enzo Maresca pada Kamis (1/1/2026), sebuah akhir yang pahit bagi perjalanan pelatih asal Italia itu di Stamford Bridge. Keputusan ini datang di tengah performa tim yang terus menurun, hanya satu kemenangan dari tujuh laga terakhir Liga Inggris, serta pupusnya ambisi bersaing dalam perebutan gelar.

Perpisahan ini terasa ironis. Hanya sebulan sebelumnya, Maresca dinobatkan sebagai pelatih terbaik Liga Inggris bulan November, saat Chelsea melaju dengan penuh keyakinan dan sempat bertengger di papan atas klasemen.

Maresca bergabung dengan Chelsea pada 2024, membawa reputasi positif setelah sukses mengantarkan Leicester City promosi ke Liga Inggris. Ia diberi mandat besar untuk mengembalikan kejayaan klub London Barat yang dua musim beruntun gagal menembus Liga Champions.

Pada musim pertamanya, Maresca sebenarnya mencatatkan sejumlah pencapaian penting. Chelsea finis di posisi keempat Liga Inggris, memastikan tiket Liga Champions, meraih trofi Liga Conference, serta menjuarai Piala Dunia Antarklub dengan skuad muda yang dibangun lewat investasi besar.

Namun, fondasi yang tampak kokoh itu mulai retak memasuki Desember. Hasil demi hasil mengecewakan datang silih berganti, disertai gestur emosional Maresca yang jarang terlihat sebelumnya. Manajemen klub pun menilai situasi ini tak bisa dibiarkan berlarut.

“Chelsea Football Club dan pelatih kepala Enzo Maresca telah berpisah,” demikian pernyataan resmi klub.

“Dengan tujuan besar yang masih diperjuangkan di empat kompetisi, termasuk kualifikasi Liga Champions, Enzo dan klub sepakat bahwa perubahan ini memberi peluang terbaik untuk mengembalikan musim ke jalur yang benar,” lanjut pernyataan tersebut.

Chelsea sejatinya sempat menyalakan harapan besar pada November. Mereka berada di posisi ketiga klasemen dan tampil meyakinkan, termasuk kemenangan telak 3-0 atas Barcelona di Liga Champions di Stamford Bridge yang memompa kepercayaan diri publik London Barat.

Akan tetapi, momentum itu menguap. Chelsea melorot ke peringkat kelima, tertinggal 15 poin dari Arsenal yang memimpin klasemen di pertengahan musim, sebuah jarak yang terasa menyesakkan bagi klub dengan ambisi juara.

Kerikil juga datang dari dalam. Bulan lalu, Maresca secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya terhadap situasi internal klub. Ia menyebut periode setelah kemenangan 2-0 atas Everton sebagai “48 jam terburuk” selama masa jabatannya, tanpa menjelaskan detail persoalan yang dimaksud.

Sejak saat itu, performa Chelsea kian merosot. Meski sempat melangkah ke semifinal Piala Liga usai menyingkirkan Cardiff City, mereka hanya meraih dua poin dari tiga laga terakhir Liga Inggris.

Di luar lapangan, isu kepindahan Maresca ke Manchester City turut menjadi gangguan, meski sang pelatih berulang kali menegaskan komitmennya kepada Chelsea, klub yang mengikatnya dengan kontrak hingga 2029.

Laga imbang 2-2 melawan Bournemouth pada Selasa menjadi penutup kisah Maresca. Keputusan mengganti Cole Palmer memicu kemarahan suporter, yang meneriakkan, “Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan,” sebelum cemoohan menggema di akhir pertandingan.

Chelsea belum mengumumkan siapa yang akan memimpin tim pada laga berat berikutnya melawan Manchester City. Yang pasti, klub kembali memasuki fase transisi, dengan harapan luka musim ini masih bisa disembuhkan sebelum semuanya terlambat.

sumber : Reuters

Read Entire Article
Food |