REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Amerika Serikat dan Jepang semakin memperdalam kerja sama militer di tengah meningkatnya ancaman senjata hipersonik di kawasan Indo-Pasifik. Kedua negara kini mengembangkan Glide Phase Interceptor (GPI), rudal generasi baru yang dirancang untuk menghadapi ancaman rudal berkecepatan tinggi yang sulit dicegat sistem konvensional.
Langkah ini menandai babak baru dalam perlombaan teknologi pertahanan global, di mana kemampuan menghadapi senjata hipersonik menjadi kunci keseimbangan kekuatan militer. Ancaman ini semakin menjadi perhatian, terutama karena rudal hipersonik mampu melaju di atas Mach 5 dan bermanuver di atmosfer, membuatnya sulit dilacak dan dicegat.
Perusahaan pertahanan AS, Northrop Grumman, untuk pertama kalinya mengungkap secara rinci pembagian kerja antara Washington dan Tokyo dalam proyek tersebut. Penjelasan ini disampaikan dalam konferensi pers di Tokyo pada April 2026, mempertegas bahwa proyek ini benar-benar dibangun dengan skema kemitraan seimbang.
Program GPI sendiri merupakan hasil kesepakatan tingkat tinggi antara Presiden AS saat itu, Joe Biden, dan Perdana Menteri Jepang saat itu, Fumio Kishida, pada Agustus 2023. Kesepakatan tersebut mencerminkan kekhawatiran bersama atas meningkatnya ancaman militer di kawasan, khususnya dari pengembangan senjata hipersonik oleh negara-negara pesaing.
Troy Brashear, Wakil Presiden Pengembangan Bisnis Antariksa Internasional di Northrop Grumman, menekankan bahwa program GPI mencerminkan kerja sama yang lebih luas di seluruh rantai serangan pertahanan rudal. “Northrop Grumman terlibat dalam seluruh spektrum pertahanan rudal, mulai dari memahami ancaman hingga menghancurkan kendaraan penyerang dan melakukan penilaian kerusakan pertempuran,” kata Brashear, sebagaimana diberitakan Navalnews.
Secara teknis, GPI dirancang sebagai rudal tiga tahap yang mampu mencegat kendaraan luncur hipersonik (hypersonic glide vehicle/HGV) pada fase luncur, fase paling sulit dalam siklus penerbangan rudal.
Dalam pembagian kerja, Amerika Serikat bertanggung jawab atas komponen kritis seperti pendorong tahap pertama, motor roket tahap ketiga, serta sistem sensor dan pencari target yang menentukan akurasi intersepsi.
Sementara itu, Jepang memegang peran strategis dalam pengembangan motor roket tahap kedua dan sistem kontrol sikap, yang berfungsi menjaga stabilitas dan kemampuan manuver rudal di fase akhir. Tokyo juga berkontribusi pada komponen kendaraan penghancur, termasuk aktuator dan sirip kendali.
Pembagian ini menunjukkan bahwa Jepang tidak lagi sekadar mitra pendukung, melainkan menjadi bagian integral dalam pengembangan teknologi militer canggih. Keterlibatan ini mencerminkan transformasi peran Jepang dalam arsitektur keamanan regional yang semakin aktif dan strategis.
Dalam perspektif geopolitik, proyek GPI menjadi simbol penguatan aliansi AS–Jepang dalam menghadapi dinamika keamanan yang kian kompleks di Indo-Pasifik. Kawasan ini dalam beberapa tahun terakhir menjadi titik panas kompetisi militer, seiring meningkatnya kemampuan rudal China, Rusia, dan Korea Utara.

3 hours ago
2










































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455219/original/006121400_1766639015-IMG-20251002-WA0019.jpg)





