Saiful Mujani dan Sindikat Ranjau Paku

14 hours ago 15

Massa aksi merobohkan pagar Gedung DPR/MPR saat unjuk rasa di kawasan kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (22/8/2024). Aksi tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap revisi Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (UU Pilkada) yang dianggap sebagai ancaman terhadap demokrasi. Aksi tersebut berlangsung hingga pukul 19.00 WIB sebelum dibubarkan personel Kepolisian.

Oleh Ulta Levenia, Pengamat Terorisme dan Keamanan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarah tak hanya mencatat kisah tentang para pemenang, tapi juga para pecundang. Karena sejarah memang tak hanya ditulis dengan tinta emas, melainkan juga tinta merah—warna yang kerap merekam sosok-sosok kelam di tiap zaman.

Dalam setiap peradaban, selalu ada tokoh yang menghalalkan segala cara demi tujuannya. Di Indonesia, rekam jejak kelompok oportunis ini terekam sejak peristiwa 1948 hingga 1965. Namun kini, di era demokrasi langsung, karakter oportunis tak lagi hanya milik politisi atau oligarki, melainkan juga aktor yang mengaku akademisi namun beroperasi sebagai pebisnis politik berkedok peneliti.

​Salah satu contoh paling aktual adalah manuver Saiful Mujani, pemilik Saiful Mujani Research Consulting (SMRC). Sosok yang dikenal sebagai murid William Liddle ini baru-baru ini menyulut kontroversi lewat seruan provokatif untuk menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto.

​Di alam demokrasi, berbeda pendapat adalah hak. Namun, ketika pendapat dimuati dengan agitasi dan propaganda demi keuntungan sirkulasi proyek pribadi, ia berubah menjadi racun. Saiful Mujani bukanlah sosok tanpa kepentingan. Sejak 2009, ia adalah konsultan politik yang bekerja dengan imbalan rupiah sebagai lawan tanding Prabowo.

Selama belasan tahun, Prabowo konsisten menjaga iklim demokrasi meski selalu kalah dari klien-klien Mujani. Prabowo patuh pada instrumen pemilu yang sah hingga akhirnya mandat rakyat jatuh ke tangannya secara jujur dan adil pada 2024.

​Ironisnya, kekalahan klien Mujani untuk pertama kalinya di era Pilpres langsung ini tampaknya berdampak pada "dapur" bisnisnya. Ketika akses terhadap proyek pemerintah dan BUMN meredup, nalar pun semakin berubah jadi sentimen. Pola yang digunakan Saiful Mujani mirip dengan sindikat penyebar paku di jalan raya.

Paku disebar oleh oknum yang sudah siap menawarkan jasa tambal ban di pinggir jalan. Mujani menebar "paku" berupa ide penggulingan kekuasaan, sambil berharap ia bisa kembali menawarkan jasa konsultansi politiknya yang kini mulai tak laku, apalagi bermutu.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |