REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Transformasi dalam industri alih daya (outsourcing) semakin mengarah pada integrasi teknologi dan sistem berbasis data. Perubahan ini sejalan dengan kebutuhan dunia usaha yang menuntut efisiensi operasional, transparansi, serta pengambilan keputusan yang lebih akurat di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang.
Selama ini, model alih daya konvensional yang bertumpu pada penyediaan tenaga kerja dinilai mulai menghadapi keterbatasan. Dunia usaha kini tidak hanya membutuhkan layanan operasional, tetapi juga visibilitas proses, kontrol yang lebih kuat, serta sistem yang mampu memberikan data secara real-time.
Kondisi tersebut mendorong pelaku industri untuk beradaptasi dengan menghadirkan solusi berbasis teknologi. Salah satu pendekatan yang mulai berkembang adalah integrasi pengelolaan tenaga kerja dengan platform digital, sehingga proses operasional yang sebelumnya tersebar dapat menjadi lebih terhubung dan terukur.
Dalam konteks ini, Shelter Indonesia menjadi salah satu perusahaan yang mulai mengarah pada model bisnis berbasis ekosistem digital. Melalui platform terintegrasi, berbagai fungsi operasional seperti keamanan, kebersihan, aktivitas penjualan, hingga tenaga kerja fleksibel dapat dikelola dalam satu sistem.
Chief Executive Officer Shelter Indonesia Hari Wahyudin mengatakan bahwa perubahan ini merupakan respons terhadap kebutuhan pasar yang semakin kompleks. Menurutnya, tantangan operasional saat ini tidak lagi sekadar memastikan pekerjaan berjalan, tetapi juga memastikan setiap proses dapat dipantau dan diukur secara sistematis.
“Arah Shelter Indonesia ke depan adalah menjadi mitra strategis operasional yang mengintegrasikan sumber daya manusia dan teknologi, agar operasional klien dapat berjalan lebih terukur, transparan, dan terkendali,” ujar Hari dalam keterangan, Jumat (17/4/2026).
Dari sisi pasar, kebutuhan terhadap layanan yang lebih terintegrasi juga terus meningkat. Perusahaan kini menuntut sistem yang tidak hanya menjalankan fungsi operasional, tetapi juga memberikan insight berbasis data untuk mendukung efisiensi dan pengambilan keputusan.
Chief Marketing Officer Shelter Indonesia Nino Mayvi menilai bahwa perubahan ini mencerminkan pergeseran kebutuhan dunia usaha. “Pasar hari ini tidak hanya membutuhkan tenaga kerja, tetapi juga membutuhkan visibilitas, kontrol, dan transparansi. Karena itu, kami membangun solusi yang relevan dengan kebutuhan klien modern,” kata Nino.
Penggunaan teknologi dalam operasional dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas. Sistem yang terintegrasi memungkinkan perusahaan tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga memantau proses secara lebih terbuka dan terstruktur.

3 hours ago
3

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449845/original/089880000_1766117243-mina.jpg)