Siapa yang Menjaga Kesehatan Mental Dosen dan Tenaga Kependidikan?

8 hours ago 12

Image Dewi yuniasih

Info Terkini | 2026-07-30 20:04:28

Oleh: dr Dewi Yuniasih MSc

Sumber: Berbagai sumber. Design: AI

Perguruan tinggi hari ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Institusi didorong menghasilkan lulusan yang unggul, meningkatkan publikasi ilmiah, memperluas kolaborasi internasional, memperkuat inovasi, memenuhi berbagai indikator kinerja, hingga beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Semua tuntutan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi.

Namun, di balik berbagai capaian tersebut terdapat pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang menjaga kesehatan mental dosen dan tenaga kependidikan?

Selama ini, perhatian terhadap kesehatan mental di lingkungan perguruan tinggi lebih banyak diarahkan kepada mahasiswa. Padahal, dosen dan tenaga kependidikan merupakan penggerak utama seluruh proses akademik. Mereka mengajar, membimbing, meneliti, melayani administrasi, mengembangkan institusi, sekaligus memastikan seluruh aktivitas pendidikan berjalan dengan baik. Ketika kesehatan mental mereka terganggu, kualitas pendidikan tinggi juga ikut terancam.

Tuntutan yang Terus Bertambah

Peran dosen saat ini tidak lagi terbatas pada pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Selain mengajar, meneliti, dan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, dosen juga harus memenuhi berbagai tuntutan administratif dan indikator kinerja. Mereka menyusun Beban Kerja Dosen (BKD), memperbarui data pada SISTER, meningkatkan rekam jejak SINTA, mengejar publikasi ilmiah, mengajukan hibah penelitian, mengikuti akreditasi program studi, mengurus kenaikan jabatan akademik, hingga menyusun berbagai laporan institusi.

Kompleksitas tersebut bahkan lebih nyata pada dosen Fakultas Kedokteran. Dalam satu hari, seorang dosen dapat memulai aktivitas dengan morning report atau visite pasien di rumah sakit pendidikan, kemudian mengajar kuliah, memimpin diskusi problem-based learning, membimbing praktikum dan skills laboratory, melakukan bedside teaching bersama dokter muda, membimbing residen, memberikan pelayanan rawat jalan, mengikuti rapat akademik, lalu malam harinya masih harus merevisi artikel ilmiah, menyusun proposal hibah, mengisi BKD, memperbarui data SISTER, hingga mempersiapkan dokumen kenaikan jabatan akademik. Peran sebagai pendidik, peneliti, pengabdi kepada masyarakat, dan dokter klinisi berlangsung hampir tanpa jeda.

Tugas akademik pun semakin beragam. Dosen tidak hanya memberikan kuliah, tetapi juga memfasilitasi diskusi tutorial, membimbing praktikum, keterampilan klinis (clinical skills), menyusun evaluasi pembelajaran, membimbing skripsi, tesis, maupun disertasi, serta mendampingi mahasiswa dalam berbagai kegiatan ilmiah.

Selain itu, dosen perlu memastikan mahasiswa menguasai kompetensi akademik serta dosen juga bertanggung jawab terhadap pembentukan profesionalisme, etika, komunikasi, dan keselamatan pasien. Kesalahan dalam proses pendidikan bukan hanya berdampak pada nilai akademik, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan di masa depan. Tanggung jawab moral inilah yang membuat tekanan psikologis dosen kedokteran berbeda dibandingkan banyak profesi akademik lainnya.

Di sisi lain, tenaga kependidikan menghadapi tantangan yang tidak kalah besar. Digitalisasi layanan akademik, perubahan regulasi, pengelolaan PDDIKTI, administrasi penelitian, keuangan, laboratorium, perpustakaan, teknologi informasi, hingga akreditasi menjadikan pekerjaan administratif semakin kompleks. Mereka adalah kelompok yang memastikan roda organisasi perguruan tinggi tetap berjalan, meskipun sering kali bekerja di balik layar.

Tekanan yang Tidak Selalu Terlihat

Di balik berbagai indikator kinerja, terdapat beban psikologis yang sering kali tidak tercatat dalam laporan beban kerja dosen. Dosen tidak hanya menghadapi tuntutan institusi, tetapi juga berhadapan dengan dinamika mahasiswa, orang tua, dan masyarakat yang semakin kompleks.

Di ruang kelas, dosen dituntut menghadapi mahasiswa dengan latar belakang akademik, karakter, dan kemampuan belajar yang sangat beragam. Tidak semua mahasiswa memiliki motivasi belajar yang tinggi, kesiapan akademik yang memadai, atau kedisiplinan yang sesuai harapan. Sebagian mengalami kesulitan belajar, sebagian menghadapi masalah kesehatan mental, sementara sebagian lainnya memiliki ekspektasi tinggi terhadap nilai maupun proses pembelajaran. Kondisi ini menuntut dosen tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pembimbing, mentor, motivator, bahkan tempat mahasiswa menyampaikan berbagai persoalan pribadi.

Tekanan tersebut sering kali semakin besar ketika dosen berhadapan dengan ekspektasi orang tua atau wali mahasiswa. Tidak sedikit dosen yang harus menjelaskan keputusan akademik, memberikan klarifikasi terhadap hasil evaluasi pembelajaran, hingga menghadapi komplain mengenai nilai, kelulusan, atau proses pendidikan. Pada beberapa program studi profesi, termasuk pendidikan kedokteran, dosen juga menghadapi tuntutan dari rumah sakit pendidikan, organisasi profesi, dan masyarakat terhadap kualitas lulusan yang dihasilkan.

Bukti Ilmiah Semakin Menguat

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tekanan tersebut bukan sekadar persepsi.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa depresi pada dosen merupakan hasil interaksi antara tingginya beban kerja akademik, lingkungan kerja, serta ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance). Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental dosen tidak cukup hanya melalui peningkatan ketahanan individu (resilience), tetapi juga memerlukan perubahan sistem dan budaya kerja di perguruan tinggi.

Penelitian lain menemukan bahwa beban kerja yang tinggi berpengaruh terhadap kesehatan mental sekaligus menurunkan produktivitas dosen. Aktivitas mengajar, penelitian, publikasi, penyusunan modul, bimbingan mahasiswa, hingga berbagai tugas administratif menjadi sumber tekanan yang apabila berlangsung terus-menerus berpotensi menimbulkan kelelahan emosional dan burnout.

Pada dosen muda, tantangannya semakin kompleks. Selain harus memenuhi tuntutan Tri Dharma dan membangun rekam jejak akademik, mereka juga berada pada fase adaptasi karier. Penelitian Rosalinda dan kolega menunjukkan bahwa resiliensi memang berperan penting dalam menjaga kesehatan mental, tetapi pengaruh tersebut menjadi jauh lebih kuat ketika didukung oleh lingkungan kerja yang suportif dan dukungan sosial dari rekan kerja maupun institusi.

Sementara itu, penelitian pada dosen kesehatan di Gorontalo menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan modal penting dalam menjalankan proses pembelajaran. Dosen yang memiliki kesejahteraan psikologis yang baik lebih mampu melaksanakan tugas pendidikan secara optimal sehingga dapat mendukung terciptanya lingkungan belajar yang sehat.

Tidak hanya dosen, tenaga kependidikan juga menghadapi risiko yang serupa. Penelitian pada tenaga kependidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya menunjukkan bahwa beban kerja berhubungan secara bermakna dengan burnout. Sementara itu, penelitian lain pada tenaga administrasi perguruan tinggi menemukan bahwa keseimbangan kehidupan kerja, kesejahteraan psikologis, dan lingkungan kerja merupakan faktor penting yang memengaruhi risiko depresi. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan mental merupakan isu bersama bagi seluruh sumber daya manusia di perguruan tinggi, bukan hanya dosen.

Kesehatan Mental Adalah Tanggung Jawab Institusi

Selama ini, solusi kesehatan mental sering kali berfokus pada kemampuan individu mengelola stres melalui pelatihan, motivasi, atau peningkatan resiliensi. Pendekatan tersebut memang penting, tetapi belum cukup.

Akar persoalan justru banyak berasal dari sistem kerja. Ketika target publikasi terus meningkat, birokrasi administratif semakin panjang, berbagai indikator kinerja terus bertambah, sementara jumlah sumber daya manusia tidak bertambah secara proporsional, maka institusi perlu melakukan evaluasi terhadap desain pekerjaan yang diberikan kepada dosen maupun tenaga kependidikan.

Perguruan tinggi perlu membangun kebijakan yang mendukung kesehatan mental, seperti evaluasi beban kerja yang lebih proporsional, penyederhanaan administrasi, layanan konseling yang mudah diakses, program mentoring bagi dosen muda, penguatan budaya kerja yang saling mendukung, serta kebijakan work-life balance. UNESCO juga menekankan bahwa institusi pendidikan tinggi perlu membangun lingkungan belajar dan bekerja yang mendukung kesejahteraan psikologis sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

Investasi bagi Masa Depan Pendidikan Tinggi

Perguruan tinggi selama ini banyak berinvestasi pada gedung, laboratorium, teknologi informasi, akreditasi, dan internasionalisasi. Semua itu penting. Namun, investasi yang paling menentukan justru adalah menjaga manusia yang menghidupkan seluruh sistem tersebut.

Mahasiswa membutuhkan dosen yang sehat secara fisik dan mental. Dosen membutuhkan tenaga kependidikan yang bekerja dalam lingkungan yang mendukung. Dan keduanya membutuhkan institusi yang tidak hanya menuntut capaian kinerja, tetapi juga menyediakan ruang untuk pulih, berkembang, dan tetap sehat.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental dosen dan tenaga kependidikan bukanlah bentuk kemewahan. Ini merupakan investasi strategis bagi mutu pendidikan tinggi Indonesia. Kampus yang unggul tidak hanya dibangun oleh akreditasi yang baik atau jumlah publikasi yang tinggi, tetapi oleh manusia-manusia yang sehat, dihargai, dan mampu bekerja dengan penuh makna.

Dosen bukan sekadar mengajar mata kuliah, tetapi membentuk manusia. Tugas tersebut tidak hanya membutuhkan kompetensi akademik, tetapi juga ketahanan emosional yang sering kali tidak terlihat. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental dosen dan tenaga kependidikan berarti menjaga kualitas generasi yang akan mereka didik.

Afridah, N., Ridwan, R., Suwarsi, S., & Alamsyah, I. F. (2024). Pengaruh beban kerja terhadap kesehatan mental dampaknya pada produktivitas dosen (Studi pada Universitas Islam Bandung). Bandung Conference Series: Business and Management, 4(1), 204–212. https://doi.org/10.29313/bcsbm.v4i1.10508

Center for Indonesian Policy Studies. (2021, December 22). We Need to Talk About Teachers' Mental Health. https://www.cips-indonesia.org/post/cips-opinion-we-need-to-talk-about-teachers-mental-health

Galán-Muros, V., Davis, K., & Bouckaert, M. (2024). Supporting the mental health and well-being of higher education students (SDG Brief No. 3). UNESCO International Institute for Higher Education in Latin America and the Caribbean (IESALC). https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000391501

Rosalinda, I., Hapsari, I. I., Mayangsari, A., Yundianto, D., & Khatami, M. (2025). The effect of resilience on mental health mediated by perceived social support in young lecturers. International Journal of Islamic Educational Psychology, 6(2), 277–291. https://doi.org/10.18196/ijiep.v6i2.28372

Ridwan, R., Suwarsi, S., & Alamsyah, I. F. (2024). Pengaruh beban kerja terhadap kesehatan mental dampaknya pada produktivitas dosen (Studi pada Universitas Islam Bandung). Bandung Conference Series: Business and Management, 4(1), 204–212. https://doi.org/10.29313/bcsbm.v4i1.10508

Soeli, Y. M., Hunawa, R. D., Rahim, N. K., Pakaya, A. W., & Yusuf, N. A. R. (2023). Gambaran mental health dosen kesehatan di Provinsi Gorontalo. Gorontalo Journal of Health and Science Community, 7(1), 185–194. https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/gojhes/article/view/18017

The Jakarta Post. (2024, October 26). The unseen toll: Mental health challenges facing lecturers. https://www.thejakartapost.com/opinion/2024/10/26/the-unseen-toll-mental-health-challenges-facing-lecturers

World Health Organization. (2022). World mental health report: Transforming mental health for all. https://www.who.int/publications/i/item/9789240049338

Hidayah, N., dkk. (2025). Correlation Between Workload and Burnout of Educational Staff at Faculty of Medicine Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. https://journal2.unusa.ac.id/index.php/IIMJ/article/view/6489

UNESCO. (2025). Health and Education: Mental Health and Psychosocial Support. https://www.unesco.org/en/health-education/mental-health

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Food |