Sinyal El Nino Menguat, APHI Dorong Penguatan Antisipasi Karhutla

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) mendorong penguatan langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring menguatnya sinyal fenomena El Nino pada pertengahan 2026. Pergeseran iklim tersebut berpotensi menekan curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.

Tenaga Ahli APHI bidang geospasial, hidrometeorologi, dan mitigasi perubahan iklim, Asep Karsidi, menyampaikan dinamika iklim tahun ini menunjukkan pergeseran menuju El Nino, terutama berdampak di Sumatra dan Kalimantan. Kondisi itu dinilai meningkatkan risiko kekeringan dan memperbesar peluang terjadinya karhutla jika tidak diantisipasi sejak awal.

“Transisi menuju El Nino berpotensi menurunkan curah hujan secara signifikan, terutama di Sumatra dan Kalimantan, sehingga risiko kekeringan meningkat,” kata Asep dalam diskusi daring APHI di Jakarta, dikutip Kamis (23/4/2026).

Ia menjelaskan periode April hingga awal Mei 2026 menjadi fase krusial untuk melakukan intervensi pencegahan sebelum memasuki musim kemarau penuh. Langkah antisipatif berbasis prediksi iklim perlu diperkuat, termasuk melalui peningkatan sistem pemantauan dan pengelolaan sumber daya air.

Pemanfaatan teknologi juga dinilai penting untuk menjaga kondisi lingkungan tetap lembap. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dapat digunakan sebagai instrumen strategis jika dilakukan pada waktu yang tepat untuk menekan potensi kekeringan.

Ketua Umum APHI Soewarso mengingatkan seluruh anggota meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah pencegahan di lapangan. Risiko karhutla dinilai tidak boleh diremehkan karena membutuhkan upaya kolektif yang konsisten dan terukur.

“Kita harus antisipasi penuh, full effort secara maksimal dengan berbagai upaya pencegahan yang bisa dilakukan,” ujar Soewarso.

Ia menilai karhutla merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan, termasuk aspek sosial dan budaya masyarakat di sekitar kawasan hutan. Pendekatan penanganan perlu dilakukan menyeluruh agar tidak berhenti pada langkah parsial.

Koordinasi di tingkat tapak perlu diperkuat, diikuti kesiapsiagaan pemegang izin kehutanan dalam menghadapi musim kemarau. Upaya preventif seperti patroli rutin, penyediaan sarana prasarana pengendalian, serta edukasi kepada masyarakat sekitar kawasan hutan harus berjalan konsisten untuk menekan potensi titik api sejak dini.

“Karhutla ini adalah akibat, bukan sebab. Jadi jangan salah, ini akibat dari berbagai faktor, termasuk faktor sosial budaya masyarakat,” jelas Soewarso.

APHI menilai karhutla merupakan fenomena sistemik yang dipengaruhi interaksi faktor atmosfer, hidrologi, dan aktivitas manusia. Pendekatan terpadu menjadi kunci, mencakup prediksi iklim, pengelolaan air, intervensi teknologi, hingga pengendalian aktivitas pembukaan lahan.

Organisasi tersebut mendorong kolaborasi multipihak antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memperkuat pencegahan karhutla. Peran pemerintah pusat dan daerah dinilai penting dalam sosialisasi dini serta penguatan kapasitas Masyarakat Peduli Api agar upaya pencegahan berjalan efektif dan berkelanjutan.

Read Entire Article
Food |