Tafsir Iman atas Bumi yang Terluka

3 hours ago 5

Oleh: Ahmad Tholabi Kharlie, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering merasa menjadi pusat dari segala sesuatu. Kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan berbagai capaian peradaban menghadirkan keyakinan bahwa alam dapat ditaklukkan sesuai kehendak manusia.

Padahal, pada saat yang sama, bumi memperlihatkan tanda-tanda kelelahan yang semakin nyata. Sungai yang dahulu jernih berubah keruh, udara yang dahulu segar terasa sesak, dan berbagai bencana ekologis hadir silih berganti sebagai bagian dari realitas yang kita saksikan setiap hari.

Dalam suasana seperti itulah peringatan Alquran menjadi sangat relevan. Kitab suci ini telah mengingatkan bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan di laut merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri. Pesan tersebut terasa sangat dekat dengan pengalaman kehidupan kontemporer. Banjir yang berulang, cuaca yang semakin ekstrem, berkurangnya kawasan hijau, serta pencemaran lingkungan menjadi cermin dari hubungan manusia dengan alam yang mengalami ketidakseimbangan.

Kesadaran ekologis dalam Islam lahir dari cara pandang yang menempatkan alam sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Alam bukan sekadar ruang tempat manusia hidup, melainkan ayat-ayat Tuhan yang terbentang di semesta. Ketika manusia memandang langit, gunung, laut, sungai, dan pepohonan dengan perspektif keimanan, ia akan menemukan bahwa seluruh ciptaan memiliki nilai spiritual yang menghubungkannya dengan Sang Pencipta.

Alam sebagai Kitab yang Terbuka

Salah satu keistimewaan Alquran adalah perhatiannya yang sangat besar terhadap alam. Ratusan ayat berbicara tentang langit, bumi, hujan, tumbuhan, hewan, gunung, lautan, serta berbagai fenomena alam lainnya. Para ulama tafsir sejak masa klasik memberikan perhatian yang luas terhadap ayat-ayat tersebut.

Imam Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menunjukkan bahwa alam merupakan ruang pembelajaran yang sangat luas bagi manusia. Setiap fenomena alam mengandung pelajaran tentang kebesaran, kebijaksanaan, dan kasih sayang Allah. Karena itu, hubungan manusia dengan lingkungan pada hakikatnya adalah hubungan spiritual yang berakar pada kesadaran tauhid.

Ketika seseorang melihat pohon sebagai ciptaan Allah, ia akan menghormatinya. Ketika ia memandang sungai sebagai nikmat Allah, ia akan menjaganya. Ketika ia memahami bumi sebagai amanah Allah, ia akan memperlakukannya dengan penuh tanggung jawab.

Pandangan ini menghadirkan perspektif yang berbeda terhadap isu lingkungan. Kerusakan alam tidak semata-mata dipahami sebagai persoalan teknis atau administratif, melainkan juga sebagai persoalan moral dan spiritual. Krisis lingkungan sering kali berakar pada krisis kesadaran manusia terhadap kedudukannya di hadapan Tuhan.

Alquran menyebut manusia sebagai khalifah di bumi. Dalam banyak diskusi, istilah khalifah sering dipahami dalam kaitannya dengan kekuasaan dan kepemimpinan. Padahal, makna yang sangat mendasar dari konsep tersebut adalah amanah.

Menjadi khalifah berarti menjadi penjaga kehidupan. Menjadi khalifah berarti menghadirkan keseimbangan dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam posisi itu, manusia menerima mandat untuk memelihara bumi, mengelola sumber daya secara bijaksana, dan memastikan keberlanjutan kehidupan bagi generasi berikutnya.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |