REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Putri Harum, ustazah pengajar Bahasa Inggris di Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, mengikuti Konferensi Internasional ASIA-TEFL yang berlangsung pada 29–31 Mei di Universitas Jiaotong Xi'an, China. Asian Association of Teachers of English as a Foreign Language (ASIA-TEFL) merupakan asosiasi guru dan akademisi bahasa Inggris terbesar di Asia yang berfokus pada pengembangan pengajaran dan pembelajaran bahasa Inggris.
Pada kesempatan tersebut, Putri mempresentasikan inovasi pembelajaran pidato bahasa Inggris yang diterapkan di Pesantren Modern Al-Ikhlash.
Dalam makalah berjudul “A Comparative Analysis of Oratorical and Conference-based Approaches in Improving Public Speaking Proficiency at Modern Islamic Boarding School”, ia menawarkan konsep pembelajaran yang dikenal dengan istilah "muhadlarah bahasa Inggris" di pesantren tersebut. Makalah itu menyoroti inovasi pembelajaran yang dikembangkan oleh Al-Ikhlash, yakni penerapan metode konferensi dalam latihan pidato bahasa Inggris.
Metode tersebut diterapkan sebagai respons terhadap metode lama yang bersifat oratoris dan cenderung menimbulkan rasa takut di kalangan santri.
Model pembelajaran ini dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan dan keberanian santri dalam berbicara di depan umum (public speaking). Melalui metode tersebut, para santri diajak membahas suatu topik tertentu, kemudian seluruh peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasannya. Dengan demikian, semua peserta terlibat aktif dalam kegiatan berbicara.
Pada akhir sesi, para santri juga diajak menyusun dan menuliskan usulan-usulan yang menyerupai resolusi berdasarkan topik yang telah dibahas.
Menurut Putri, metode ini terbukti mampu meningkatkan kemampuan berbicara santri di hadapan khalayak. Selain itu, inovasi dalam muhadlarah ini juga berhasil meningkatkan semangat dan keceriaan santri dalam mengikuti program, sekaligus mengurangi rasa takut saat berbicara di depan umum dibandingkan dengan metode oratoris yang sebelumnya digunakan.
Hambatan yang Kerap Dihadapi Santri Saat Berbicara dalam Bahasa Inggris
Bagi banyak santri, tantangan terbesar dalam pembelajaran bahasa Inggris bukanlah menghafal kosakata atau memahami tata bahasa. Kesulitan yang lebih sering muncul justru ketika mereka harus berdiri di depan orang lain dan menyampaikan gagasannya secara lisan.
Salah satu hambatan yang paling umum adalah rasa takut melakukan kesalahan. Banyak santri khawatir salah mengucapkan kata, menggunakan tata bahasa yang kurang tepat, atau tidak mampu menyampaikan ide dengan lancar. Kekhawatiran tersebut sering kali membuat mereka ragu untuk berbicara meskipun sebenarnya memahami materi yang ingin disampaikan.
Selain itu, tekanan psikologis saat tampil di depan umum juga menjadi faktor penting. Tidak sedikit santri yang merasa gugup ketika harus berbicara di hadapan teman-temannya. Rasa cemas akan penilaian orang lain terkadang membuat kemampuan yang telah dipelajari tidak dapat ditampilkan secara optimal.

3 hours ago
3













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509321/original/086615600_1771679962-SnapInsta.to_630114161_18162147202417018_2870114530835891224_n__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499312/original/081206000_1770782561-Depositphotos_132132754_XL.jpg)

