Tahapan Membangun Startup yang Wajib Dipelajari Mahasiswa Kewirausahaan

10 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Tidak dapat dimungkiri banyak mahasiswa masa kini merasa terinspirasi oleh para pendiri startup yang kerap tampil di berbagai media bisnis. Sosok-sosok seperti Nadiem Makarim atau William Tanuwijaya sering kali memunculkan motivasi untuk turut menciptakan inovasi besar berikutnya.

Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit yang berhenti pada tahap keinginan dan angan-angan semata. Padahal, proses membangun sebuah startup merupakan perjalanan yang panjang, penuh tantangan, dan membutuhkan ketekunan tinggi. Proses tersebut tidak dapat dicapai secara instan, sebagaimana halnya aktivitas sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak individu memiliki ide yang cemerlang, tetapi mengalami kesulitan pada tahap pelaksanaan. Bagi mahasiswa yang sedang mencari panduan mengenai cara membangun startup, pembahasan ini diharapkan dapat menjadi gambaran realistis sekaligus panduan strategis.

Uraian berikut akan mengulas langkah-langkah penting dalam membangun startup agar para calon pendiri tidak tersesat dalam fase kritis yang kerap disebut sebagai “lembah kematian” dalam perjalanan sebuah startup.

Bisnis Startup Itu Bukan Sekadar Jualan Online Pakai Website

Seringkali ada salah kaprah yang fatal. Banyak yang mengira bisnis startup itu sama saja dengan UMKM biasa yang dikasih bumbu digital. Startup itu didesain untuk tumbuh cepat (growth) dan memecahkan masalah yang spesifik dengan bantuan teknologi.

Kalau warung kopi sebelah rumahmu buka website, itu bukan startup. Tapi kalau ada aplikasi yang menghubungkan petani kopi langsung ke peminum kopi dengan traceability digital, nah itu baru bau-bau startup.

Fase Krusial: Dari Coretan Tisu Sampai Pitching Investor

Membangun startup itu ada seninya. Jangan loncat-loncat. Berikut adalah fase yang wajib kamu pahami kalau nggak mau boncos di tengah jalan.

1. Jangan Jatuh Cinta pada Solusi, Tapi pada Masalahnya (Ide & Validasi)

Kesalahan umum pemula adalah terlalu yakin terhadap ide bisnis tanpa memastikan kebutuhan pasar. Oleh karena itu, langkah pertama yang krusial adalah melakukan validasi ide dengan calon pengguna secara objektif. Proses ini memang menantang, tetapi penting untuk mencegah kegagalan sejak tahap awal. Tanya ke calon user, "Kalian butuh ini nggak sih?". 

2. Eksekusi Adalah Koentji (Pengembangan & Eksekusi)

Setelah ide tervalidasi, fokus beralih pada perancangan model bisnis dan pengembangan produk. Tentukan sumber pendapatan yang jelas, lalu kembangkan produk dalam bentuk Minimum Viable Product (MVP). Produk tidak perlu sempurna sejak awal, melainkan dapat disempurnakan secara bertahap berdasarkan umpan balik pengguna.

3. Bahan Bakar untuk Tumbuh (Pendanaan & Scale-Up)

Kalau produkmu sudah diterima pasar, tantangan berikutnya adalah bensin. Kamu harus paham skema pendanaan startup, mulai dari bootstrapping (pakai duit tabungan sendiri), cari Angel Investor, sampai Venture Capital. Tujuannya buat apa? Buat scaling startup. Biar bisnismu yang tadinya cuma melayani satu kelurahan, bisa melayani satu Indonesia.

4. Mahasiswa Wirausaha: Mulai Sekarang atau Nyesel Nanti

Kenapa harus mulai pas kuliah? Karena mahasiswa wirausaha punya privilege waktu dan toleransi kegagalan yang tinggi. Kalau gagal pas kuliah, paling cuma diketawain teman. Kampus adalah laboratorium terbaik buat eksperimen.

Read Entire Article
Food |