REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelemahan rupiah dan ketidakpastian ekonomi global dinilai masih menjadi tantangan utama perekonomian Indonesia saat ini. Tekanan tersebut disebut lebih banyak berasal dari faktor eksternal dibandingkan persoalan kebijakan domestik.
Ekonom Monash University Hizkia Yosie Polimpung mengatakan, berbagai tekanan terhadap rupiah dan ekonomi nasional juga dialami banyak negara berkembang lainnya. Karena itu, menurut dia, tidak tepat jika seluruh persoalan ekonomi saat ini dibebankan kepada pemerintah.
"Tekanan terhadap rupiah tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada pemerintah Indonesia karena faktor global yang terjadi saat ini sangat kuat dan memengaruhi hampir seluruh mata uang di Asia," kata Hizkia dalam Forum Ekonom Konstitusi bertajuk "Masa Depan Rupiah dan Paradigma Baru" di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Hizkia mengakui semula tidak selalu sejalan dengan arah kebijakan pemerintah. Namun setelah mencermati berbagai langkah yang ditempuh, ia menilai sejumlah kebijakan menunjukkan arah yang progresif.
"Saya harus mengakui bahwa setelah mempelajari kebijakan yang dijalankan, ada banyak langkah yang menurut saya cukup progresif," ujar Hizkia.
Menurut Hizkia, tantangan utama saat ini bukan terletak pada arah kebijakan pemerintah, melainkan kesiapan struktur ekonomi nasional untuk menjalankan kebijakan tersebut secara optimal. Sejumlah program dinilai telah disusun dengan baik, namun masih membutuhkan dukungan fondasi ekonomi yang lebih kuat.
"Kebijakannya progresif, tetapi tantangannya ada pada kesiapan struktur ekonomi di bawahnya. Kebijakan yang baik belum tentu langsung menghasilkan dampak maksimal jika fondasinya belum siap," ucap Hizkia.
Ia menilai pemerintah terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui berbagai instrumen fiskal dan moneter. Sementara itu, gejolak ekonomi global dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari dinamika geopolitik, persaingan teknologi, hingga pergeseran arus modal internasional.
"Ini membuat hampir seluruh negara berkembang menghadapi tekanan yang sama terhadap nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi," ucap Hizkia.
Hizkia juga menyoroti pentingnya peran rumah tangga dalam menopang perekonomian nasional. Berdasarkan hasil penelitiannya, konsumsi masyarakat masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi di Indonesia maupun negara-negara Asia Tenggara.
"Rumah tangga dan kelas menengah merupakan penyangga utama ekonomi. Selama konsumsi masyarakat masih terjaga, pertumbuhan ekonomi akan tetap memiliki fondasi yang kuat," ujar Hizkia.
Meski demikian, ia mengingatkan kelas menengah saat ini menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi global. Karena itu, kebijakan pemerintah perlu terus diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat perlindungan ekonomi, serta mendorong penguatan sektor riil.
"Menurut saya, arah kebijakannya sudah berada di jalur yang tepat. Tantangannya sekarang adalah memastikan kebijakan tersebut benar-benar sampai dan dirasakan oleh masyarakat," ujar Hizkia.

6 hours ago
6













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509321/original/086615600_1771679962-SnapInsta.to_630114161_18162147202417018_2870114530835891224_n__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499312/original/081206000_1770782561-Depositphotos_132132754_XL.jpg)
