REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah retorika keras Uni Eropa terhadap Moskow pasca perang Ukraina, Hungaria justru menempuh jalan yang berbeda, lebih sunyi, tapi terasa semakin menjauh dari arus utama Brussel. Apa yang tampak hari ini bukanlah perubahan mendadak, melainkan kelanjutan dari fondasi hubungan yang telah dibangun sejak era Viktor Orbán.
Sejak kembali berkuasa pada 2010, Orbán membawa Hungaria ke arah yang ia sebut sebagai “demokrasi iliberal”, sebuah pendekatan yang menekankan kedaulatan nasional dan pragmatisme. Dalam kerangka itu, Rusia tidak dilihat semata sebagai rival ideologis, tetapi sebagai mitra strategis, terutama dalam sektor energi.
Demokrasi iliberal sendiri merujuk pada sistem politik yang tetap mempertahankan mekanisme demokrasi formal seperti pemilu, tetapi tidak sepenuhnya mengadopsi nilai-nilai liberal Barat seperti kebebasan pers yang luas, independensi lembaga, dan perlindungan maksimal terhadap oposisi.
Dalam model ini, negara memainkan peran yang lebih dominan, sementara stabilitas politik dan kepentingan nasional ditempatkan di atas kebebasan individu. Dengan kata lain, demokrasi tetap berjalan, tetapi dikendalikan dalam kerangka yang lebih terpusat dan berorientasi pada kekuatan negara.
Orbán menggunakan istilah ini bukan tanpa alasan. Ia melihat demokrasi liberal Barat sebagai model yang, dalam pandangannya, mulai kehilangan efektivitas dalam menghadapi krisis global, mulai dari migrasi, tekanan ekonomi, hingga identitas nasional.
Dengan mengusung “demokrasi iliberal”, Orbán ingin menegaskan bahwa Hungaria membutuhkan sistem yang lebih tegas, lebih protektif terhadap kepentingan domestik, dan lebih fleksibel dalam menjalin hubungan luar negeri, termasuk dengan Rusia.
Dalam konteks ini, istilah tersebut sekaligus menjadi pernyataan politik: bahwa Hungaria tidak sepenuhnya ingin tunduk pada standar ideologis Uni Eropa.
Media seperti Financial Times mencatat bahwa ketergantungan energi Hungaria terhadap Rusia merupakan faktor utama yang membentuk kebijakan luar negerinya. Dalam salah satu laporannya, FT menekankan bahwa “Budapest has consistently resisted EU pressure to fully sever energy ties with Moscow,” atau Budapest secara konsisten menolak tekanan Uni Eropa untuk sepenuhnya memutus hubungan energi dengan Rusia.

4 hours ago
3









































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448189/original/093801500_1766021590-WhatsApp_Image_2025-12-18_at_07.55.13.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2384766/original/020395400_1539683489-Jason_Leung.jpg)




