Tiga Analis Arab-Turki: Mengapa Program Nuklir Iran Jauh Lebih Ngeri dari Irak dan Libya

4 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada Maret 2026, dinas-dinas keamanan di empat ibu kota Teluk, Manama, Kota Kuwait, Abu Dhabi, dan Doha, secara hampir bersamaan membongkar jaringan sel tidur yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Iran.

Yang membuat pembongkaran itu mengejutkan bukan hanya faktanya, melainkan apa yang ditemukan di dalamnya: bukan gudang senjata konvensional, bukan bom rakitan yang disembunyikan di balik tembok rumah.

Yang ditemukan adalah perangkat lunak pengintai, drone berpeledak jarak pendek, dan individu-individu yang terlatih untuk melakukan operasi siber dan pengumpulan intelijen terhadap fasilitas energi vital.

Dalam banyak hal, perubahan pola proksi ini menunjukkan banyak kawasan belum sepenuhnya siap membaca evolusi itu.

Di saat yang sama, ribuan kilometer dari ruang-ruang interogasi di Teluk, para analis di Kairo dan Istanbul sedang bergulat dengan dua pertanyaan yang sama fundamentalnya: mungkinkah kemampuan nuklir Iran benar-benar dilenyapkan? Dan di ujung semua konflik ini, seperti apa bentuk tatanan politik kawasan yang akan datang?

Tiga suara dari tiga sudut yang berbeda menawarkan pembacaan yang, ketika diletakkan berdampingan, membentuk satu argumen yang lebih besar dari bagian-bagiannya masing-masing.

Evolusi Ancaman Garda Revolusi

Hassan al-Mustafa, kolumnis Al Arabiya dan Asharq al-Awsat, memulai analisanya begini, pada 2015, aparat keamanan Kuwait membongkar apa yang dikenal sebagai "sel Abdali," sebuah jaringan yang mengandalkan penimbunan persenjataan fisik dalam jumlah besar.

Sebelas tahun kemudian, sel-sel yang ditemukan di empat kota Teluk itu bekerja dengan pola yang sama sekali berbeda: lebih murah, lebih klandestin, dan dalam banyak hal lebih efektif dan efisien.

"Pergeseran dari 'konfrontasi keras' ke 'perang hibrida' ini membuat tantangan keamanan bagi negara-negara Teluk Arab semakin besar," tulis al-Mustafa. Teknologi yang lebih murah dan lebih akurat memungkinkan kerusakan langsung tanpa memerlukan persiapan operasional yang panjang atau pelatihan militer intensif. Seorang operator drone yang terlatih dengan baik, dengan perangkat yang bisa dibeli secara komersial dan dimodifikasi, bisa mengganggu fasilitas energi senilai miliaran dolar.

Namun al-Mustafa melihat dimensi yang lebih dalam dari sekadar perubahan taktis ini. Yang paling ia khawatirkan adalah tujuan jangka panjang dari operasi-operasi semacam itu: bukan menghancurkan infrastruktur fisik, melainkan menggerogoti kohesi sosial dari dalam.

"Sel-sel ini sangat mungkin diarahkan untuk memicu konflik identitas berbagai komponen di negara-negara Teluk Arab, yang menghasilkan bias sektarian dan regional yang tajam," tulisnya. Dengan menciptakan kecurigaan antarsuku, antargolongan, dan antarsekte, Iran berupaya mengubah masyarakat yang relatif kohesif menjadi fragmen-fragmen yang mudah dimanipulasi dan direkrut.

Read Entire Article
Food |