REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden China Xi Jinping melakukan pembicaraan telepon berturut-turut dengan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Rabu, 4 Februari 2026. Ketiga pemimpin ini membahas isu-isu krusial yang sedang memanas di panggung global, termasuk perdagangan, Taiwan, perang di Ukraina, situasi di Iran, serta upaya menjaga stabilitas hubungan bilateral.
Dalam panggilan dengan Trump, Xi menekankan pentingnya saling menghormati untuk menyelesaikan masalah bilateral. Menurut readout dari media pemerintah China seperti CCTV dan Xinhua, Xi menyatakan: "Dengan menangani masalah satu per satu dan terus membangun saling percaya, kita dapat menciptakan jalan yang tepat bagi kedua negara untuk bergaul dengan baik."
Ia juga mengusulkan agar tahun 2026 menjadi tahun di mana China dan AS bergerak menuju saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, serta kerja sama yang saling menguntungkan. Trump, di sisi lain, memposting di Truth Social bahwa percakapan itu "sangat baik" dan "panjang serta mendalam", dengan hubungan pribadinya bersama Xi "sangat baik".
Mereka membahas perdagangan (termasuk potensi pembelian kedelai dan energi AS oleh China), Taiwan, Ukraina, Iran, serta rencana kunjungan Trump ke China yang sangat dinantikannya, sebagaimana diberitakan TRT World.
Tak lama sebelumnya, Xi menggelar video call selama hampir satu setengah jam dengan Putin. Xi menyebut situasi internasional semakin bergejolak sejak awal tahun dan menyerukan pendalaman koordinasi strategis agar hubungan kedua negara berkembang stabil.
Putin menyebut Xi sebagai "sahabat terkasih" dan menegaskan bahwa kemitraan komprehensif Rusia-China adalah "contoh yang patut ditiru", serta faktor penstabil penting di tengah turbulensi global. Kremlin menambahkan bahwa Putin menerima undangan Xi untuk berkunjung ke China pada paruh pertama 2026 dan menghadiri KTT APEC di Shenzhen pada November.
Kedua pemimpin membahas perdagangan bilateral yang mencapai sekitar 200 miliar dolar AS tahun lalu, serta isu-isu seperti situasi tegang di Iran dan berakhirnya pakta nuklir penting New START antara AS-Rusia pada hari Kamis.
Di balik diplomasi hangat ini, ketegangan antara AS dengan China dan Rusia tetap mengintai. Washington geram dengan dominasi produk China di pasar dunia yang meminggirkan barang-barang Amerika.
Produk manufaktur China, dari elektronik hingga kendaraan listrik, mendapat preferensi konsumen global berkat harga kompetitif dan rantai pasok efisien, sementara industri AS merasa tertekan oleh subsidi negara, dumping, dan praktik perdagangan yang dianggap tidak adil. Hal ini memperburuk defisit perdagangan AS-China dan memicu kekhawatiran atas hilangnya lapangan kerja serta ketergantungan strategis.
Sementara itu, AS juga kesal dengan Rusia yang tak kunjung menghentikan serangan militernya di Ukraina, meski perang telah berlangsung hampir empat tahun dan menjadi konflik terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II. Moskow terus melancarkan operasi meski ada pembicaraan trilateral di Abu Dhabi antara Kiev, Moskow, dan Washington untuk mengakhiri perang. AS melihat ini sebagai tantangan langsung terhadap tatanan keamanan Eropa dan sekutu NATO-nya.
Pembicaraan Xi dengan kedua pemimpin ini terjadi di momen sensitif: fase kedua negosiasi Ukraina di UEA, eskalasi AS-Iran (termasuk ancaman militer Trump dan potensi serangan), serta berakhirnya New START yang membuka risiko perlombaan senjata nuklir tanpa batas antara AS dan Rusia, dengan China juga memperluas arsenalnya.
Meski Xi dan Putin menekankan koordinasi strategis, serta Trump-Xi menyoroti potensi kerja sama, dunia tetap waspada terhadap bagaimana diplomasi ini akan memengaruhi keseimbangan kekuatan global di tahun 2026.

3 weeks ago
14



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)












