Trumpisme: Militerisme Gaya Baru dan Benteng Baja di Atas Tanah Amblas

11 hours ago 6

Oleh : Achmad Tshofawie, Peminat kajian strategis; Keluarga FKPPI dan ICMI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada awal 2026, dunia menyaksikan sebuah paradoks kepemimpinan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Donald Trump, seorang pengusaha properti yang kini kembali menduduki kursi kepresidenan, mengumumkan proposal anggaran pertahanan yang mencengangkan: 1,5 triliun dolar AS. 

Dengan narasi membangun "Militer Impian" (Dream Military), Trump sedang mematri wajah baru militerisme—sebuah fenomena yang kita sebut sebagai "Trumpisme Militeristik". Namun, di balik kegagahan jet tempur siluman dan armada laut yang memenuhi samudera, terdapat retakan fatal pada pondasi yang menyangganya: utang nasional yang telah menembus angka 38 triliun dolar AS.Inilah fenomena "Benteng Baja di Atas Tanah Amblas"—sebuah upaya membangun kekuatan fisik yang luar biasa di atas landasan ekonomi yang sedang mengalami defisit struktural akut.

Secara historis, militerisme biasanya digerakkan oleh junta militer atau jenderal yang haus kekuasaan. Namun, Trump adalah warga sipil murni. Baginya, militer bukan sekadar alat pertahanan, melainkan instrumen branding kekuasaan dan alat negosiasi dagang. Trumpisme melihat kekuatan senjata sebagai pendukung utama dari kebijakan tarifnya. Namun, kegemaran Trump pada parade militer dan pamer kekuatan alutsista mengaburkan satu fakta fundamental ekonomi: militer adalah sektor konsumtif, bukan produktif. Setiap satu dolar yang dibelanjakan untuk rudal balistik adalah satu dolar yang ditarik dari investasi infrastruktur atau pendidikan yang memiliki multiplier effect bagi ekonomi jangka panjang.

Bayang-Bayang Sejarah: Dari Romawi hingga Soviet

Jika Trump bersikeras mengabaikan peringatan para ekonom, ia sebenarnya sedang menantang hukum gravitasi sejarah. Sejarah adalah kuburan bagi kekaisaran-kekaisaran yang menderita Imperial Overstretch—sebuah kondisi di mana komitmen militer melampaui kemampuan ekonomi untuk membiayainya.

Kekaisaran Romawi jatuh bukan karena legiunnya lemah, melainkan karena biaya untuk menjaga perbatasan yang sangat luas memaksa pemerintah melakukan devaluasi mata uang dan menaikkan pajak hingga mencekik rakyatnya sendiri. Hal serupa terjadi pada Spanyol di abad ke-17 di bawah Dinasti Habsburg. Meski memegang monopoli emas dari Benua Baru, ambisi militeristik Raja Philip II untuk mendominasi Eropa membuat Spanyol bangkrut empat kali. Emas yang mereka miliki hanya "numpang lewat" untuk membayar utang kepada bankir-bankir Jerman dan Italia.

Kemiripan yang paling mengerikan tentu saja adalah Uni Soviet. Pada puncak Perang Dingin, Soviet memiliki persenjataan yang setara, bahkan di beberapa lini mengungguli Amerika Serikat. Namun, benteng baja mereka berdiri di atas ekonomi yang keropos. Alokasi sumber daya yang tidak proporsional untuk militer (mencapai 15-20 persen dari PDB) membuat sektor sipil mereka kelaparan, hingga akhirnya negara itu runtuh tanpa perlu ditembak satu peluru pun oleh musuhnya.

Tanah yang Amblas: Jebakan Utang 38 Triliun Dolar

Pada 2026, Amerika Serikat menghadapi situasi fiskal yang jauh lebih berbahaya daripada masa Perang Dingin. Dengan utang 38 triliun dolar AS, pembayaran bunga utang saja kini bersaing dengan anggaran departemen-departemen vital lainnya. Trump berargumen bahwa pendapatan dari tarif impor—termasuk tarif agresif terhadap mitra dagangnya dari berbagai negara—akan menjadi sumber pendanaan.

Namun, ini adalah logika yang cacat. Tarif impor justru memicu inflasi domestik dan perang dagang global yang memperlambat pertumbuhan ekonomi. Membiayai militer dengan membebani perdagangan global adalah strategi yang kontradiktif; ia menghancurkan sistem perdagangan bebas yang selama ini menjadi sumber kemakmuran Amerika. Jika pertumbuhan ekonomi melambat akibat perang dagang, maka "tanah" di bawah benteng baja itu akan semakin amblas.

Fenomena ini membawa kita kembali pada peringatan klasik sejarawan Universitas Yale, Paul Kennedy, dalam bukunya yang fenomenal, The Rise and Fall of the Great Powers. Kennedy memperkenalkan konsep Imperial Overstretch—sebuah kondisi di mana komitmen luar negeri suatu negara adidaya secara sistematis melampaui kemampuan ekonominya.

Kennedy berargumen bahwa "Jika sebuah negara mengalokasikan terlalu banyak sumber dayanya untuk tujuan militer daripada penciptaan kekayaan, hal itu akan menyebabkan kemerosotan ekonomi dalam jangka panjang." 

Trump tampaknya sedang melakukan hal sebaliknya; ia percaya bahwa kekuatan militer bisa "memaksa" terciptanya kekayaan melalui tarif dan konsesi dagang. Namun, sejarah Romawi hingga Spanyol Habsburg membuktikan bahwa militer yang terlalu gemuk tanpa basis produksi domestik yang efisien adalah resep bagi kebangkrutan nasional.

Logika Militerisme Sipil yang Cacat

Berbeda dengan militerisme tradisional yang digerakkan oleh jenderal, Trumpisme adalah militerisme yang lahir dari pola pikir pengusaha otokratis. Analis geopolitik Robert Kaplan sering mengingatkan bahwa stabilitas sebuah imperium bergantung pada keseimbangan antara "otot" (militer) dan "saraf" (ekonomi).

Trump mencoba membangun otot yang masif saat saraf ekonominya sedang terhimpit beban bunga utang. Pada tahun 2026, pembayaran bunga utang AS diprediksi melampaui seluruh anggaran pendidikan dan kesehatan jika suku bunga tetap tinggi. Dalam konteks ini, ambisi Trump membangun "Benteng Baja" bukan lagi sebuah strategi keamanan, melainkan sebuah perjudian eksistensial.

Kesalahan Uni Soviet di era 1980-an menjadi cermin yang paling relevan. Sebagaimana dicatat oleh ekonom Marshall Goldman, Soviet runtuh karena mereka memiliki "kompleks industri militer" yang menyedot otak-otak terbaik dan sumber daya terdahsyat, namun meninggalkan toko-toko kelontong dalam keadaan kosong.

Saat ini, Trump mencoba membiayai militernya dengan tarif impor 19 persen (termasuk pada produk Indonesia). Strategi ini, menurut ekonom peraih Nobel Joseph Stiglitz, justru akan menciptakan "pajak tersembunyi" bagi rakyat Amerika sendiri. Alih-alih mendapatkan modal dari luar, Trump justru melemahkan daya beli rakyatnya demi membiayai mesin perang yang belum tentu bisa digunakan. Amerika sedang membangun kekuatan fisik yang luar biasa di atas landasan ekonomi yang sedang mengalami defisit struktural akut.

Risiko Bagi Negara-negara: Antara Pajak dan Perlindungan

Dampaknya bersifat sistemik dan global. Bukan cuma negara berkembang yang "kena getah," tapi mulai dari Uni Eropa, Jepang, hingga negara-negara tetangga mereka di NAFTA (Meksiko dan Kanada). Mereka semua dipaksa menjadi "sponsor" bagi ambisi militeristik ini lewat jalur tarif.

Kebijakan ini adalah ancaman ganda. Kita tidak hanya menghadapi ketidakpastian keamanan, tetapi juga dipaksa menjadi "donatur" bagi ambisi militer Trump melalui pajak perdagangan. Seperti yang pernah diperingatkan oleh pakar hubungan internasional Stephen Walt,militerisme yang agresif dari sebuah negara adidaya justru akan memicu "penyeimbangan" (balancing) dari negara lain, yang pada akhirnya membuat dunia menjadi tempat yang lebih berbahaya dan mahal bagi semua orang

Donald Trump mungkin merasa bahwa Amerika terlalu besar untuk gagal. Namun, Paul Kennedy mengingatkan bahwa kekuatan relatif suatu negara tidak pernah bersifat permanen. Ia bergantung pada efisiensi penggunaan sumber dayanya.

Jika slogan MAGA (Make America Great Again) yang sangat ambisius ini gagal karena beban utang dan militerisme yang ugal-ugalan, analis sejarah dan ekonomi mungkin punya beberapa istilah "plesetan" atau skenario pahit untuk menggambarkan jadinya seperti apa: MAMA (Make America Miserable Again).

Bukannya kembali besar, Amerika justru bisa menjadi marah atau sengsara. Jika tarif impor memicu inflasi tinggi dan militer menyedot habis anggaran sosial, kelas menengah Amerika akan jatuh miskin. Kegagalan ini bisa memicu kerusuhan sipil yang lebih besar daripada yang pernah kita lihat sebelumnya.

The "Great Default" (Kebangkrutan Agung)

Jika dunia (investor) mulai meragukan kemampuan AS membayar bunga utang $38 triliun tersebut, maka status dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia akan runtuh. Jika ini terjadi, slogan MAGA akan berubah menjadi sejarah tentang "Raksasa yang Tumbang karena Berat Badannya Sendiri."

Ingat Mikhail Gorbachev? ia ingin memperbaiki Soviet (Perestroika), tapi karena beban militer yang sudah terlalu busuk dan ekonomi yang kaku, tindakannya justru mempercepat pembubaran negara. Jika Trump memaksakan "Benteng Baja" di atas tanah amblas, dia bisa saja dikenang sebagai pemimpin yang secara tidak sengaja mengakhiri supremasi Amerika di dunia (hegemoni AS berakhir).

Fortress America (Amerika Benteng yang Terisolasi)

Jika gagal secara ekonomi namun tetap ingin kuat secara militer, AS bisa berubah menjadi negara yang terisolasi—punya senjata nuklir banyak tapi tidak punya kawan dagang. Mirip dengan versi "raksasa" dari Korea Utara; sangat bersenjata, namun terkucil dan ekonominya stagnan.

Ada kata pepatah lama, "besar pasak daripada tiang." Jika MAGA gagal, tiang ekonominya akan patah karena pasak militernya terlalu berat. Alih-alih "Great Again", yang terjadi mungkin adalah "Greatly Indebted" (Sangat Berutang).

Tanpa koreksi arah fiskal yang radikal, "Militer Impian" ini akan tercatat dalam buku sejarah sebagai monumen terakhir dari sebuah kekuatan besar yang lupa bahwa musuh paling mematikan bukanlah tentara lawan, melainkan neraca keuangan yang tidak terkendali. Benteng baja itu mungkin terlihat gagah dari kejauhan, tetapi ia sedang tenggelam pelan-pelan ke dalam tanah yang ia remukkan sendiri oleh beban ambisinya yang tidak berdasar pada realitas ekonomi.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |