REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Tim peneliti Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) mengembangkan riset pembenihan kentang di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Perkembangan program hibah Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) ini dipaparkan dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) di Dinas Pertanian Kabupaten Garut pada 26-27 Agustus 2026.
Riset terpadu ini berlokasi di Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut ini, untuk membangun sistem pembenihan kentang yang lebih efisien, sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan. Program ini mengintegrasikan teknologi pembenihan, penguatan kelembagaan, serta kemitraan dengan menggandeng PT Horti Agro Makro (CHAMP) sebagai mitra off-taker dan Koperasi Produsen Sukaresmi Mulus Rahayu sebagai pengelola.
Dalam pemaparannya, tim peneliti mengungkapkan sejumlah capaian, termasuk dokumen perencanaan, kesepakatan kemitraan, hingga kesiapan lahan demplot seluas 2.000 meter persegi. Ketua Tim Peneliti UBSI, Dr. Taufik Baidawi, M.Kom., menjelaskan bahwa penelitian difokuskan pada perakitan Bioreaktor TIS, persiapan demplot, dan pengembangan Dashboard Smart Agrologistik.
"Penelitian ini diarahkan untuk membangun sistem pembenihan kentang yang lebih efisien, sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan melalui integrasi teknologi dengan penguatan kelembagaan serta kemitraan," ujar Dr Taufik, mewakili tim peneliti UBSI, dalam keterangan rilisnya pada Kamis (3/9/2026).
Untuk mengantisipasi tantangan serangan organisme pengganggu tanaman dan cuaca panas di screenhouse, tim memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) guna pemantauan lingkungan secara real-time. Langkah tersebut diimbangi dengan pengawasan kawat kasa (netting), penyemprotan, dan sanitasi secara berkala.
Riset ini menargetkan produksi lebih dari 6.000 bibit stek Ex-Vitro siap tanam dan sekitar 3.000 umbi benih G1 bersertifikat hingga akhir 2026. Program ini juga membidik tingkat keberhasilan aklimatisasi mencapai 85 persen serta efisiensi biaya benih hingga 25 persen bagi petani mitra.
Selain aspek pembenihan, sistem Smart Agrologistik dikembangkan untuk membantu pengelolaan usaha tani dan meningkatkan posisi tawar petani dalam rantai pasok. Rangkaian kegiatan ini akan dilanjutkan dengan penanaman demplot, pelatihan petani, hingga agenda temu bisnis pada November 2026.
Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, teknologi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan inovasi laboratorium, tetapi juga memberi dampak nyata di lapangan. Sebagai Kampus Digital Kreatif, UBSI berkomitmen mendorong riset berbasis teknologi yang menjawab kebutuhan masyarakat.
"Kami berharap hasil penelitian ini dapat terus berkembang menjadi model pembenihan kentang yang modern, berbasis teknologi, dan memberikan manfaat nyata bagi petani serta ekosistem pertanian," kata Dr Taufik.

1 hour ago
6




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5692679/original/097423800_1778569231-1_1_.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5552488/original/035803500_1775810333-35830.jpg)




