Pengungsi Palestina melaksanakan sholat Idul Adha di samping reruntuhan Masjid Al-Huda di Khan Younis, Jalur Gaza, Rabu (27/5/2026). Warga Gaza merayakan hari raya Idul Adha tanpa adanya penyembelihan hewan kurban di tengah kelangkaan pasokan, lonjakan harga yang gila-gilaan, serta puing-puing kehancuran pasca perang. Blokade dan hancurnya banyak peternakan akibat perang membuat pasokan hewan kurban sangat terbatas, sementara harganya melonjak hingga tak lagi terjangkau bagi sebagian besar warga.
REPUBLIKA.CO.ID,GAZA — Saat dunia Muslim menyambut hari raya Idul Adha 1447 H/2026 dengan penuh suka cita, warga Palestina di Jalur Gaza harus menghadapi hari raya tersebut di bawah bayang-bayang serangan yang terus berlanjut, gelombang pengungsian, serta tragedi kemanusiaan yang kian memburuk.
Hingga tahun ketiga, suasana yang biasanya melekat dengan perayaan Idul Adha—seperti perkumpulan keluarga, pasar yang ramai, kemeriahan, dan persiapan penyembelihan hewan kurban—hampir sepenuhnya lenyap dari seluruh Jalur Gaza.
Alih-alih bersukacita, banyak warga Palestina yang harus menghabiskan waktu mereka untuk mencari kerabat yang tertimbun di bawah reruntuhan, memakamkan korban serangan Israel, serta bertahan hidup di tengah kondisi kepungan yang kian mencekik.
Jaringan Berita Quds News Network melaporkan, rumah sakit di seluruh Gaza menerima 13 jenazah warga Palestina yang syahid dalam 48 jam terakhir, termasuk satu orang yang mengembuskan napas terakhir akibat luka parah yang diderita sebelumnya. Selain itu, sebanyak 57 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Israel yang terus menggempur berbagai wilayah di kantong terkepung tersebut.
Sumber-sumber medis juga menyatakan bahwa petugas penyelamat masih belum mampu menjangkau sebagian korban yang terjebak di bawah puing-puing bangunan dan di jalan-jalan raya. Hal ini dipicu oleh pemboman yang terus berlangsung serta kelangkaan parah yang melumpuhkan armada layanan darurat.
Angka-angka terbaru ini merefleksikan serangan Israel yang tak kunjung berhenti meskipun sempat ada perjanjian gencatan senjata yang akhirnya runtuh pada Oktober tahun lalu.
Berdasarkan data resmi yang dikutip dalam laporan tersebut, sebanyak 72.757 warga Palestina telah gugur dan 172.645 lainnya terluka sejak dimulainya genosida oleh Israel pada Oktober 2023. Sejak runtuhnya kesepakatan gencatan senjata pada 11 Oktober silam, otoritas setempat telah mencatat 870 warga Palestina gugur, 2.543 terluka, dan ratusan lainnya berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan yang hancur.

4 hours ago
6















































