Warga membawa jenazah tiga jurnalis yang syahid akibat serangan udara Israel di Rumah Sakit Nasser, Khan Yunis, Gaza Selatan, Rabu (21/1/2026). Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Gaza yang mengakibatkan 11 orang syahid, dimana 3 diantaranya adalah jurnalis. Para jurnalis tersebut tewas ketika serangan udara Israel menargetkan kendaraan mereka di Jalur Gaza tengah.
REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- The Committee to Protect Journalists (CPJ), sebuah organisasi nirlaba berbasis di New York yang fokus pada isu kebebasan pers mencatat, terdapat 129 kasus kematian jurnalis dan pekerja media di seluruh dunia pada 2025. Dua pertiga dari kematian tersebut dilakukan Israel.
Dalam laporannya, CPJ mengungkapkan, lebih dari tiga perempat dari total kematian jurnalis pada 2025 terjadi di daerah konflik, termasuk Jalur Gaza. CPJ turut mendokumentasikan jurnalis Palestina yang terbunuh di tangan pasukan Israel.
"Lebih dari 60 persen dari 86 anggota pers yang tewas akibat tembakan Israel pada tahun 2025 adalah warga Palestina yang meliput dari Gaza," ungkap CPJ dalam laporannya, dikutip laman Al Arabiya, Rabu (25/2/2026).
CPJ mencatat, jumlah jurnalis yang tewas di Ukraina dan Sudan juga meningkat pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. CPJ menyoroti peningkatan pengoperasian pesawat nirawak (drone) dalam kasus kematian jurnalis, khususnya di daerah konflik.
CPJ mendokumentasikan 39 kasus kematian jurnalis akibat drone. Sebanyak 28 kasus di antaranya dilakukan Israel terhadap jurnalis di Gaza. Militer telah berulang mengeklaim tidak pernah secara sengaja menargetkan jurnalis dalam serangannya.
Di Ukraina, dalam catatan CPJ, terdapat empat jurnalis terbunuh akibat drone militer Rusia. Angka itu menjadi jumlah kematian jurnalis tahunan tertinggi dalam perang Ukraina sejak 15 orang tewas pada tahun 2022.
CPJ mengungkapkan, pada 2025, terdapat enam jurnalis yang tewas di Meksiko. Hingga kini pengungkapan seluruh kasus kematian tersebut belum menemui titik terang.
CPJ juga mencatatkan beberapa kasus kematian jurnalis di Filipina, Bangladesh, India, dan Peru. Menurut CPJ, jurnalis semakin rentan karena budaya impunitas yang terus berlanjut. Mereka mencatat kurangnya investigasi transparan terhadap pembunuhan jurnalis atau pekerja media.
"Jurnalis terbunuh dalam jumlah yang memecahkan rekor pada saat akses informasi lebih penting daripada sebelumnya,” kata CEO CPJ Jodie Ginsberg dalam sebuah pernyataan.
“Kita semua berisiko ketika jurnalis terbunuh karena melaporkan berita," tambah Ginsberg.

16 hours ago
7




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)











