Banggar DPR Sebut Pilihan Destry-Aida Tegaskan Komitmen Jaga Independensi BI

3 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Keputusan Presiden Prabowo Subianto mengajukan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia (BI) dan Aida S Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI dinilai merupakan pilihan berbasis teknokrasi.

Menurut Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah, kedua nama tersebut memiliki pengalaman panjang di sektor keuangan dan telah memahami dinamika kebijakan moneter maupun pasar keuangan.

Karena itu, apabila mendapat persetujuan DPR, Destry dan Aida dinilai memiliki modal awal yang kuat untuk melanjutkan kepemimpinan Bank Indonesia di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

“Pilihan Presiden Prabowo mengajukan Destry dan Aida adalah pilihan teknokrasi," kata dia, kepada media di Jakarta, Rabu (19/8/2026). 

Dia menambahkan, langkah ini menepis anggapan politisasi BI sekaligus menunjukkan komitmen untuk menjaga pasar keuangan tetap kondusif. 

Said menilai rekam jejak kedua kandidat menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan pelaku pasar.

Menurutnya, kepercayaan pasar tidak dapat dibangun secara instan karena membutuhkan pengalaman, konsistensi, serta pemahaman mendalam terhadap dinamika sektor keuangan.

Dia mencontohkan kondisi pasar ketika Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI. Saat itu, pasar dinilai tidak mengalami gejolak yang berarti karena kepemimpinan sementara BI berada di bawah Destry bersama jajaran yang sudah bekerja selama ini.

“Rekam jejak yang panjang adalah investasi kepercayaan dari para pelaku pasar. Dan kepercayaan seperti ini tidak mudah dipenuhi oleh setiap calon pemimpin,” katanya.

Said mengingatkan bahwa Destry dan Aida akan menghadapi tantangan yang tidak ringan apabila mendapat persetujuan DPR.

Gejolak ekonomi global, perubahan kebijakan negara-negara besar, fluktuasi nilai tukar, hingga tekanan inflasi membutuhkan kepemimpinan BI yang kuat dan memiliki arah kebijakan yang jelas.

Menurut Said, mandat utama Bank Indonesia tetap berkaitan dengan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi.

Namun, melalui regulasi baru, BI juga memperoleh tugas untuk turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Persoalannya, kata Said, Indonesia masih membutuhkan “core policy” atau kerangka kebijakan utama yang dapat menjadi panduan bagi arah kebijakan moneter ke depan.

“Kita belum memiliki narasi kebijakan yang cukup kuat untuk mengerangkai arah kebijakan fiskal dan moneter. Inilah yang perlu segera dirumuskan oleh Menteri Keuangan dan pimpinan BI yang baru,” ujarnya.

Said mencontohkan kebijakan ekonomi Tiongkok yang selama ini cenderung menjaga daya saing ekspornya melalui nilai tukar yuan yang relatif lemah terhadap dolar AS.

Kebijakan tersebut, kata dia,  membuat produk ekspor Tiongkok lebih kompetitif di pasar global dan pada akhirnya memicu respons Amerika Serikat melalui berbagai kebijakan hambatan perdagangan.

Di sisi lain, Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan inflasi dan persoalan defisit perdagangan, terutama setelah perang Rusia-Ukraina pada 2022 yang turut memicu lonjakan harga berbagai komoditas global.

Kondisi tersebut, menurut Said, ikut mendorong Amerika Serikat mempertahankan kebijakan yang cenderung memperkuat dolar AS.

Bagi Said, pengalaman negara-negara besar tersebut menunjukkan pentingnya Indonesia menentukan arah kebijakan ekonominya sendiri secara lebih jelas.

Indonesia perlu menentukan apakah kebijakan ke depan akan diarahkan untuk memperkuat ekspor komoditas sehingga membutuhkan dukungan nilai tukar rupiah yang kompetitif, atau justru memprioritaskan pengendalian inflasi pangan dan energi yang sebagian masih bergantung pada impor.

“Apakah kita akan memperkuat ekspansi ekspor komoditas sehingga membutuhkan dukungan kebijakan pelemahan rupiah yang terbatas? Ataukah kita memilih menurunkan inflasi sektor pangan dan energi yang banyak ditopang impor sehingga arah kebijakan moneter perlu memperkuat rupiah? Ini yang harus dirumuskan,” kata Said.

Read Entire Article
Food |