MBG 3T Dinilai Buka Akses Pasar bagi Petani dan Peternak Lokal

4 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) berpotensi membuka pasar baru bagi petani dan peternak lokal. Kebutuhan bahan pangan untuk dapur MBG dinilai dapat mendorong produksi sekaligus menciptakan perputaran ekonomi di tingkat desa.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NTT Bobi Lianto mengatakan, keberadaan dapur MBG di desa dapat mendorong petani meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan secara rutin.

"Begitu pun dengan adanya MBG 3T yang ada di kampung, di desa-desa ini, juga akan mendorong para petani-petani kita di daerah, otomatis mereka akan bekerja untuk mempersiapkan itu," ujar Bobi dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).

Menurut Bobi, kebutuhan bahan baku yang berlangsung secara rutin dapat membuka ruang bagi petani dan peternak lokal untuk masuk ke dalam rantai pasok MBG. Pasokan dari wilayah sekitar juga dinilai lebih efisien untuk daerah yang menghadapi keterbatasan akses transportasi dan infrastruktur.

"Secara hitungan sudah pasti selayak dan sepantasnya, apalagi di daerah yang remote area yang tidak bisa dijangkau, otomatis lebih baik supply-nya ada di kampung itu sendiri," katanya.

Penguatan rantai pasok lokal juga didorong melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengatakan, produksi petani dan peternak dapat dikonsolidasikan melalui koperasi agar pasokan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih mudah dipenuhi secara rutin.

"Pak Kepala Badan yang baru kan sudah memerintahkan ambil dari sisi hulu. Makanya sekarang yang berbahagia itu adalah peternak maupun petani kecil, lalu dibuat ekosistem dalam sebuah koperasi," ujar Ketut.

Menurut Ketut, penyerapan hasil produksi melalui MBG juga dapat memberikan kepastian pasar bagi petani dan peternak lokal sekaligus membantu menjaga stabilitas harga komoditas.

Selain itu, pemerintah mendorong pemanfaatan pangan lokal dalam penyediaan makanan untuk MBG, terutama di wilayah 3T. Komoditas yang tersedia di daerah dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan SPPG sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar wilayah.

"Yang kedua yang tidak kalah penting adalah pemanfaatan daripada makanan lokal. Jangan lupa, kita juga punya konsumsi makanan lokal. Kalau daerah 3T, misalkan dia memiliki banyak ikan, ya gunakan ikan dong. Manfaatkan ikan di situ. Makanan lokal jangan dilupakan," kata Ketut.

Read Entire Article
Food |