CEO NVIDIA Bicara Pekerjaan dan 4 Prinsip Sederhana Hadapi Revolusi AI

11 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah meningkatnya kecemasan bahwa kecerdasan buatan akan menggantikan manusia, pendiri sekaligus CEO NVIDIA, Jensen Huang, justru menyampaikan pesan berbeda kepada para wisudawan angkatan 2026 Universitas Carnegie Mellon pada Senin (11/5/2026).

Dalam pidato wisudanya, Huang mengatakan bahwa generasi hari ini sedang memasuki salah satu momen paling penting dalam sejarah teknologi manusia. Menurutnya, dunia bukan sedang menuju akhir pekerjaan manusia, melainkan memasuki awal dari lahirnya industri baru dan era baru sains serta penemuan.

Huang membandingkan situasi saat ini dengan masa ketika revolusi komputer pribadi mulai berkembang puluhan tahun lalu. Bedanya, menurut dia, revolusi AI akan jauh lebih besar. Jika komputer dan internet mengubah cara manusia bekerja, maka AI akan mengubah hampir seluruh fondasi industri. “Karena kecerdasan adalah dasar dari setiap industri, maka setiap industri akan berubah,” kata Huang, sebagaimana diberitakan blog resmi NVIDIA dan Axios.

Namun menariknya, Huang tidak melihat AI hanya sebagai teknologi untuk para programmer atau ilmuwan komputer. Ia menggambarkan AI sebagai mesin besar yang akan menghidupkan kembali sektor industri secara luas.

Ledakan pembangunan pusat data, pabrik chip, infrastruktur energi, dan fasilitas teknologi baru akan membuka kebutuhan besar terhadap tenaga teknis dan pekerja lapangan. Karena itu, menurut Huang, era AI juga akan menjadi era penting bagi teknisi, tukang listrik, pekerja konstruksi, tukang ledeng, hingga pekerja besi. AI, dalam pandangannya, bukan sekadar revolusi digital, tetapi juga revolusi industri baru.

Di bagian inilah pidato Huang terasa berbeda dari banyak narasi teknologi lain. Ketika sebagian tokoh industri memperingatkan bahwa AI akan menghapus pekerjaan manusia, Huang memilih menekankan sisi transformasinya. Ia mengakui bahwa setiap revolusi teknologi selalu melahirkan ketakutan.

Namun sejarah, katanya, menunjukkan bahwa masyarakat yang mampu beradaptasi justru memperoleh peluang terbesar. Bagi Huang, masalah utamanya bukan apakah AI akan datang atau tidak, melainkan apakah manusia ikut terlibat membentuknya atau hanya menjadi penonton.

Read Entire Article
Food |