Dokter Ingatkan Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Stunting pada Anak

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan anak di Indonesia. Selain berdampak pada pertumbuhan fisik, kondisi ini juga dapat memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas anak saat dewasa.

Dokter Spesialis Anak, dr Diana Nubatonis, Sp.A, mengatakan stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang dalam jangka waktu lama. Karena itu, menurut dia, pencegahan dan deteksi dini menjadi langkah yang sangat penting untuk mencegah dampak jangka panjang.

"Stunting tidak hanya berdampak pada tinggi badan anak, tetapi juga perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitasnya di masa depan. Karena itu, pencegahan dan deteksi dini memegang peranan penting," ujar Diana dalam kegiatan Festival Sehat Ceria si Kecil di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa waktu lalu.

Dikutip dari siaran pers, Selasa (28/7/2026), ia mengimbau orang tua rutin memantau tinggi dan berat badan anak sesuai usianya serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan tanda-tanda gangguan pertumbuhan. Menurut Diana, pemantauan tumbuh kembang secara berkala memungkinkan masalah gizi dikenali lebih cepat sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisinya semakin berat.

"Deteksi sejak dini menjadi kunci agar permasalahan gizi dapat segera ditangani sebelum terlambat," katanya.

Ia menambahkan, edukasi kepada orang tua menjadi bagian penting dalam upaya menurunkan angka stunting. Dengan pemahaman yang baik mengenai kebutuhan gizi dan tumbuh kembang anak, orang tua dapat mengambil langkah yang tepat sejak awal.

"Setiap langkah kecil yang dilakukan orang tua akan memberikan dampak besar bagi masa depan anak," ujarnya.

Persoalan stunting masih menjadi tantangan di Indonesia. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, sekitar 19,8 persen atau hampir satu dari lima anak Indonesia masih mengalami stunting. Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu provinsi dengan prevalensi stunting yang masih tinggi.

Kepala DP3AP2KB Provinsi NTT, drg Iien Adriany, M.Kes, mengatakan rendahnya pemahaman mengenai pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingginya angka stunting di daerah tersebut. Menurut dia, edukasi mengenai pemenuhan gizi, pemantauan pertumbuhan, serta konsultasi dengan tenaga kesehatan perlu terus diperkuat agar orang tua dapat melakukan pencegahan sejak dini.

Peringatan Hari Anak Nasional juga dimanfaatkan berbagai pihak untuk meningkatkan edukasi mengenai kesehatan anak. Salah satunya melalui kegiatan Festival Sehat Ceria si Kecil yang diselenggarakan K-24 Group bersama Sarihusada di Kota Kupang. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.000 orang tua dan anak dengan agenda skrining tumbuh kembang serta edukasi gizi keluarga.

Sales Director Sarihusada, Rizki Imam Ardhi, menegaskan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memperluas jangkauan edukasi dan layanan nutrisi ke masyarakat. “Selama lebih dari 71 tahun, Sarihusada terus berkomitmen untuk memastikan kecukupan nutrisi anak bangsa dan secara aktif berkontribusi dalam pencegahan stunting," katanya.

Sementara founder dan CEO Apotek K-24, dr. Gideon Hartono, menekankan Festival Sehat Ceria si Kecil adalah upaya bersama dalam rangka untuk mengentaskan stunting di Indonesia. Orang tua, sambungnya, perlu memahami pentingnya gizi seimbang, pemantauan tumbuh kembang, dan deteksi dini agar setiap anak memiliki kesempatan tumbuh sehat dan optimal.

Read Entire Article
Food |