Gugurnya Ali Khamenei, Saat Seorang Rahbar Gugur Syahid dan Hakikat Kematian

3 hours ago 4

Para pelayat bereaksi menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Lapangan Enqelab, Teheran, Iran, 1 Maret 2026. Menurut pernyataan dari media pemerintah Iran yang dirilis pada 1 Maret 2026, Khamenei tewas dalam serangan udara dalam kampanye militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026.

Oleh : Dr Otong Sulaeman, Rektor STAI Sadra Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Pagi itu, sekitar pukul sembilan, saya menerima kabar yang membuat tangan saya bergetar. Di sebuah kota bernama Bandung, yang biasanya tenang dengan hawa sejuknya, dunia terasa seperti berhenti sesaat.

Ayatollah Ali Khamenei gugur. Pemimpin yang dalam bahasa Persia dipanggil Rahbar itu diumumkan secara resmi telahgugur dalam serangan bom yang dilancarkan AS dan Israel.

Berita semacam ini, bagi sebagian orang, mungkin dibaca seperti membaca kabar politik biasa: seorang pemimpin wafat dalam pusaran konflik global.

Tetapi bagi bangsa Iran—dan bagi banyak orang yang mengikuti dinamika perlawanan di Timur Tengah—kematian seperti ini tidak pernah sekadar kematian. Ia disebut syahadah (gugur syahid). Ia dimaknai sebagai puncak, bukan akhir.

Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis di sebuah media tentang satu hal yang unik. Tanggal 2 Mei diperingati oleh Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional karena kelahiran Ki Hadjar Dewantara.

Sementara Iran memperingati 1 Mei sebagai Hari Guru karena wafatnya Murtadha Muthahhari—seorang ulama dan intelektual besar yang dibunuh pada 1979.

Saya waktu itu menulis: Indonesia memilih kelahiran sebagai momen penting, Iran memilih kematian. Bagi bangsa Iran, kematian lebih bermakna daripada kelahiran.

Hari ini, ketika seorang Rahbar gugur, saya kembali merenungi tulisan lama itu.

Ada dua perspektif yang menjelaskan mengapa kematian dipandang begitu penting dalam tradisi Islam—dan secara khusus dalam kultur revolusioner Iran.

Pertama, kematian adalah titik final evaluasi manusia. Selama seseorang masih hidup, selalu terbuka kemungkinan ia berubah—ke arah baik atau sebaliknya. Amal baik bisa ternodai.

Konsistensi bisa runtuh. Sejarah penuh dengan kisah orang yang memulai dengan gemilang, lalu tergelincir di ujung perjalanan, from hero to zero.

Read Entire Article
Food |