REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengembangan jalan tol di Indonesia perlu bergeser dari sekadar menambah panjang ruas menuju optimalisasi jaringan yang telah terbangun. Integrasi antarruas menjadi penting agar infrastruktur jalan tol dapat bekerja sebagai satu ekosistem yang efektif, sekaligus memperkuat daya saing perekonomian nasional.
Ekonom sekaligus mantan menteri keuangan dan mantan kepala Bappenas, Prof Bambang PS Brodjonegoro, mengatakan konektivitas yang mulus (seamless) merupakan fondasi utama efisiensi logistik. Hal itu membutuhkan kolaborasi antarpengelola jalan tol dan integrasi antarmoda yang menghubungkan pusat produksi, kawasan industri, pelabuhan laut, hingga pelabuhan darat (dry port).
“Bicara mengenai jalur logistik, maka nomor satu yang paling penting itu adalah konektivitas. Kalaupun itu bergantung pada jalan tol, maka konektivitas jalan tolnya harus dipastikan supaya jalur logistik menjadi lebih cepat dan lebih murah. Yang paling penting secara fisik harus mulus, jangan sampai sedikit-sedikit ada gerbang untuk pembayaran,” jelas Bambang dalam siaran persnya, Senin (7/9/2026).
Menurut Bambang, integrasi fisik perlu diikuti sistem transaksi yang sederhana agar perjalanan tidak kembali tersendat oleh gerbang pembayaran yang berulang.
“Kita juga berharap semua pengelola jalan tol bisa membuat sistem yang memudahkan pengguna. Jadi, tidak hanya fokus pada kebutuhan masing-masing dengan gerbang tol yang terpisah-pisah, tetapi dapat bekerja sama dalam satu lajur dan membagi pendapatan secara proporsional sesuai besaran investasi. Dengan demikian, perbedaan tarif tidak akan mengganggu pengguna dari sisi logistik,” ujarnya.
Ia menilai optimalisasi jaringan jalan tol masih kerap terkendala kebijakan dan regulasi yang belum mengikat seluruh pihak. Karena itu, kepastian regulasi dibutuhkan untuk menempatkan integrasi jalan tol sebagai kepentingan nasional, bukan sekadar kepentingan bisnis masing-masing Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).
Di tengah keterbatasan ruang fiskal APBN, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan perlu menyiapkan wadah kolaborasi serta payung hukum yang kuat. Kepastian tersebut dapat menjadi insentif nonfiskal bagi investor untuk mendukung integrasi jaringan.
Urgensi kolaborasi tersebut juga mengemuka dalam forum Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) mengenai penyelarasan ekosistem infrastruktur jalan tol. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan, “Kita tidak bisa berjalan sendiri, pemerintah, BUJT, dunia usaha, asosiasi, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya harus bergerak dalam arah yang sama.”
Ketua Umum ATI Rivan A. Purwantono menambahkan bahwa orientasi industri perlu mencakup peningkatan pelayanan publik sekaligus keberlanjutan usaha. “Kami ingin membangun ekosistem jalan tol yang menciptakan nilai secara berkelanjutan bagi pengguna jalan, negara, maupun pelaku industri,” ujarnya.
Menurut Bambang, desain integrasi perlu dimulai sejak proses lelang (bidding), antara lain melalui skema penggabungan (bundling) atau subsidi silang (cross-subsidy). Ruas yang memiliki potensi komersial tinggi dapat dipadukan dengan akses strategis menuju pelabuhan yang tingkat pengembalian investasinya lebih rendah. Dengan skema tersebut, kelayakan investasi tetap terjaga tanpa mengorbankan kepentingan logistik nasional.
“Harus ada pemahaman bahwa efektivitas dan potensi bisnis jalan tol hanya akan membaik kalau konektivitasnya terwujud. Ke depan, setiap bidding perlu mengombinasikan ruas yang potensial dengan ruas yang sangat dibutuhkan, seperti akses menuju pelabuhan. Tugas penyusun proses lelang adalah memastikan Return on Investment (ROI) tetap terpenuhi, sementara misi pembangunan, khususnya untuk mendorong logistik, juga tercapai,” ujar Bambang.
Tanpa integrasi yang tegas, jaringan jalan tol berisiko tetap terfragmentasi dan tidak menghasilkan manfaat ekonomi secara optimal. Kondisi ini dapat menekan daya saing industri melalui biaya logistik yang tinggi, sekaligus menambah beban pemeliharaan jalan arteri.

5 hours ago
7











































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5692679/original/097423800_1778569231-1_1_.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5552488/original/035803500_1775810333-35830.jpg)