Israel Bunuh Anak Usia Enam Tahun di Hari Pertama Bersekolah di Gaza

6 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Seorang anak perempuan Palestina dan ayahnya tewas pada Ahad dalam serangan Israel yang menyasar sebuah kendaraan di Kota Gaza, tepat pada hari yang menjadi hari pertama sekolah bagi anak tersebut. Buku-buku sekolahnya ditemukan di antara puing-puing kendaraan yang berlumuran darah.

Seperti jamak di negara-negara Timur Tengah lainnya, Ahad merupakan hari pertama sekolah bagi Wafaa Akila. Namun selesai menjalani hari pertama itu, gadis kecil tersebut tidak pernah sampai ke rumah. 

Quds News Network melaporkan bahwa Wafaa dan ayahnya Yousef Akila, syahid dalam serangan Israel yang menargetkan kendaraan mereka di sebelah barat Kota Gaza pada hari pertama tahun ajaran sekolah.

Mohamed Abu Selmia, kepala Rumah Sakit Al Shifa—fasilitas medis terbesar di wilayah tersebut—mengiyakan bahwa serangan udara itu menghantam sebuah kendaraan di bagian barat Kota Gaza, menewaskan Youssef Akila beserta putrinya, Wafaa, serta melukai enam orang lainnya.

Juga pada Ahad, dua serangan terpisah Israel menewaskan dua orang lainnya, termasuk seorang anak di Kota Gaza, menurut keterangan petugas medis.

Mereka menambahkan bahwa serangan Israel menewaskan setidaknya satu pria di dekat perusahaan telekomunikasi di sebelah timur Kota Gaza, sementara tembakan tank Israel yang diarahkan ke sebuah sekolah tempat pengungsian keluarga-keluarga terlantar menewaskan seorang anak perempuan berusia tujuh tahun; dengan demikian, jumlah korban tewas pada Ahad mencapai sedikitnya empat orang.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sebanyak 272 anak syahid dalam serangan Israel di seluruh Jalur Gaza hingga 16 Agustus, sementara 1.174 lainnya terluka. Di antara para korban juga terdapat 135 perempuan, 39 lansia, dan 819 laki-laki.

Pasukan Israel terus melakukan genosida terhadap warga Palestina dengan sengaja menargetkan anak-anak di Jalur Gaza, demikian temuan Komisi Penyelidikan independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dalam laporan yang diterbitkan pada bulan Juni, Komisi Penyelidikan independen PBB—yang tahun lalu menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan genosida di Gaza—menemukan bahwa pasukan Israel terus melakukan genosida terhadap warga Palestina dengan sengaja menargetkan anak-anak di Jalur Gaza.

Laporan tersebut menyatakan bahwa serangan Israel terus menyebabkan "kematian, cedera, dan trauma yang belum pernah terjadi sebelumnya" bagi anak-anak Palestina.

Pada bulan Agustus, badan PBB untuk urusan anak-anak menyatakan bahwa setidaknya 300 anak telah syahid di Gaza dalam kurun waktu sekitar 300 hari sejak apa yang disebut sebagai "gencatan senjata" diumumkan pada 10 Oktober 2025—rata-rata satu anak setiap harinya.

Ratusan lainnya terluka, banyak di antaranya mengalami luka parah, ungkap UNICEF dalam sebuah pernyataan. "Gencatan senjata yang mengakibatkan rata-rata satu anak syahid setiap harinya adalah kegagalan bagi anak-anak," ujar Edouard Beigbeder, Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.

"Anak-anak di Gaza masih menantikan berakhirnya kekerasan yang telah dijanjikan kepada mereka."

Dalam satu serangan di wilayah barat Kota Gaza pada 2 Agustus, warga menemukan jenazah bayi yang belum lahir dari balik reruntuhan setelah serangan tersebut menewaskan seorang perempuan hamil, suaminya, dan putra mereka yang berusia lima tahun.

Lebih dari 64.000 anak tewas atau terluka di Gaza antara 7 Oktober 2023 dan 7 Oktober 2025, menurut data PBB.

Read Entire Article
Food |