Wawancara 'King of Krakatoa' Prof Tukirin: Gunung Ini Mengajarkan Suksesi Kehidupan

1 hour ago 5

Oleh: Prof Tukirin Partomihardjo

REPUBLIKA.CO.ID -- Batuk-batuk anak Gunung Krakatau, Rakata, masih terus terjadi. Abu akibat erupsinya menyebar mulai dari Sumatra sampai Jawa. Efeknya luar biasa. Pesawat terbang dilarang wara-wiri di angkasa. Sekolah di sejumlah daerah diliburkan, karena kekhawatiran efek debu vulkanik pada siswa. Namun lintas penyeberangan kapal dijaga dengan waspada.

Hidup Krakatau dan Rakata seolah senafas dengan kata bencana dan kehancuran. Padahal di balik itu, anak gunung purba ini menyimpan kehidupan yang unik. Prof Tukirin Partomihardjo adalah peneliti Lembaga Ilmi Pengetahuan Indonesia (kini Badan Riset dan Inovasi Nasional-BRIN) yang giat meriset lingkungan hidup di kawasan berbahaya itu. Ia menghabiskan waktu lebih dari 30 tahun untuk bolak balik meneliti dan menulis soal lingkungan Krakatau, Rakata, dan pulau di sekitarnya.

Tak heran, Prof Tukirin disebut sebagai 'King of Krakataoa' dalam satu video dokumenter karena kepakarannya di tempat yang amat tidak stabil itu. Republika mewawancara Prof Tukirin, Senin (7/9/2026) siang. Di usianya yang tak lagi muda, jawaban-jawaban Prof Tukirin terdengar bersemangat dan juga sangat runut. "Saya terus berkomunikasi dengan Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Banten memantau situasi Krakatau," kata dia. Meskipun terakhir mengunjungi Rakata pada 2018, pascatsunami dahsyat, Prof Tukirin dengan sigap menjawab ia siap kembali ke sana kalau situasi sudah memungkinkan. Berikut petikan wawancaranya:

Kapan terakhir ke Krakatau-Rakata?

Sudah cukup lama tidak ke sana, terakhir 2018, setelah tsunami itu.

Prof sudah lebih dari 30 tahun meneliti di kepulauan Krakatau. Apa yang berbeda dari kunjungan pertama kali dengan yang terakhir kali? 

Saya pertama kali menginjak anak Krakatau pada 1981. Yang sangat berubah dengan terakhir ke sana adalah anak Krakatau menjadi sangat aktif sekali. Di awal 1980an, tinggi anak Krakatau itu sekitar 150-200 meter di atas permukaan laut (mdpl), kemudian sebelum tsunami 2018 sudah mencapai 300 mdpl. Saat letusan dan longsoran yang mengakibatkan tsunami 2018, berubah total jadi 150 mdpl. Hilang separuhnya (gunung itu). Dulu ada tumbuhan-tumbuhan yang berbentuk tutupan vegetasi seluas 17 persen dari Rakata, tapi kemudian itu total hilang karena erupsi. Tidak ada kehidupan apapun setelah letusan dan longsoran terakhir.

Gunung Krakatau dan Rakata berulang kali erupsi, kehancuran ekologis yang luar biasa. Bagaimana cara lingkungannya kembali pulih? Hewan dan tumbuhan apa yang pertama kali nongol di situ?

Sulit di deteksi. Tapi berdasarkan literatur terdahulu, yang menarik adalah laba-laba bisa jadi hewan perdana di sana. Ternyata laba-laba ini memiliki jangkauan sebaran yang luas sekali. Namun, laba-laba tidak bisa sendiri. Dia tidak bisa bertahan kalau tidak ada sumber makanan. Jadi harus ada serangga yang dimakan. Kalau untuk tumbuhan, lumut bisa jadi yang pertama hidup di sana. Lumut bisa hidup di kondisi tanah ekstrim. Darimana lumut datang? Bisa dari udara, diterbangkan angin, atau dibawa lewat arus laut.  Setelah erupsi, pada 2018, maka seluruh hewan dan tumbuhan total hilang. Mulai lagi dari nol. Pada waktu itu, enam bulan setelah longsor, saya singgah ke Krakatau-Rakata. Muter-muter, sudah ketemu daun kecil tumbuh dan juga ada biji kelapa yang baru mau berkembang.

Tiga dekade meneliti lingkungan Krakatau, adakah tumbuhan unik yang Prof temukan di sana?

Paling menarik memang kehadiran jenis tumbuhan yang dipencarkan oleh manusia. Pernah ada kebun pisang cukup luas di sana di Pulau Sertung, ada juga pohon durian, ada pohon jeruk, pohon jambu biji juga ada, ada pohon nangka. Ini karena campur tangan manusia. Kita pernah temukan di jalur trek wisata Krakatau tumbuh rumput yang khas dari satu daerah di Jawa. Kok bisa di situ? Sepertinya biji-biji rumput itu terbawa di lipatan celana para pengunjung gunung. Ditemukan juga jenis sayuran tomat dan cabai merah, ada cabai rawit juga. Kalau tomat dan cabai kemungkinan besar dari nelayan yang memasak makanannya, kalau cabe rawit bisa jadi dari burung yang menyebarkan biji-bijinya. Manusia juga jadi agen pemencar satwa, misalnya tikus. Pernah ada banyak sekali tikus di Krakatau. Datang darimana? Ternyata kita temukan, tikus itu turun dari kapal-kapal nelayan lewat tali tambatan saat nelayan singgah ke pulau.

Apa yang diajarkan Gunung Krakatau-Rakata dengan aktivitas letusan, lalu mendatangkan kehidupan, lalu melenyapkan semuanya, letusan kembali berulang kali? 

Kita diajarkan suksesi. Bahwa kehidupan untuk bisa tumbuh berkembang stabil itu butuh waktu yang lama. Bayangkan Krakatau dari 1883 sampai sekarang itu belum bisa stabil, belum terbentuk vegetasi primer. Hancur lalu tumbuh berkembang lagi. Maka untuk memanfaatkan sumber daya alam, misalnya seperti tambang, harus amat bijaksana, agar kerusakan tidak terlalu besar, agar lingkungan tetap lestari. 

Apa pengalaman yang paling berkesan di sana?

Paling saya ingat, saya merasa hidup kembali di Krakatau! Jadi ceritanya pada 1998/1999 saya diajak syuting film dokumenter Australia. Kapal utama berlabuh agak jauh. Saya dan dua orang lain diantar dengan perahu ke Krakatau. Baru beberapa saat mendaki, ternyata gunungnya meletus, batuan terpencar, jatuh dari langit. Saya panik sekali. Alhamdulillah, saya dan dua orang lainnya selamat, tidak terkena batu satupun. Tim yang di kapal utama sudah menyatakan ketiga orang pasti meninggal dunia. Tapi mereka tetap kirim perahu untuk mengecek kami di pantai. Saat melihat kami di pantai mereka kaget sekali, dikira kami hantu. Di belakang saya, ada satu pohon cemara laut yang terkena batu letusan gunung, terbakar habis. Alhamdulilah..Alhamdulillah...

Menurut Prof, dengan situasi letusan saat ini, apakah mungkin terjadi longsoran kembali seperti 2018?

Secara teoritis sepertinya tidak. Karena bagian yang curam dari Rakata pada 2018 itu sudah longsor. Sekarang justru tahap timbun menimbun sampai kembali cukup tinggi, yang kemudian kalau dipicu oleh letusan, dinding itu bisa saja longsor kembali. 

Read Entire Article
Food |