Abiyyu Abbey
Drama | 2026-07-23 00:34:34
Ada satu adegan sederhana namun menohok dalam drama Can This Love Be Translated?: Mu-hee, aktris Korea yang tengah jatuh cinta, meminta penerjemahnya menyampaikan perasaannya kepada Hiro Kurosawa, aktor Jepang yang menjadi rekan syutingnya. Bukan kata-kata yang sulit ia temukan, melainkan cara agar perasaan itu benar-benar sampai utuh, tanpa kehilangan makna di tengah jalan. Dari sinilah drama ini berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kisah cinta lintas negara: bagaimana dua budaya, dengan cara berkomunikasi yang begitu berbeda, berusaha saling memahami.
Budaya Jepang mengenal konsep tatemae dan hone wajah yang ditunjukkan ke publik, dan perasaan sejati yang tersembunyi di baliknya. Hiro, di awal cerita, adalah personifikasi sempurna dari tatemae: dingin, formal, menjaga jarak, sebelum perlahan menunjukkan honne-nya seiring ia mulai membuka diri. Berbeda dengannya, Mu-hee membawa Jeong kehangatan emosional khas Korea yang lahir dari keterikatan tulus antarmanusia. Ia tak segan menyatakan perasaan secara langsung, bahkan meminta bantuan penerjemah agar emosinya tersampaikan tanpa distorsi.
Pertemuan dua gaya ini yang menyimpan dan yang mengungkapkan memicu gesekan yang manusiawi, seperti ketika Hiro sempat menganggap Mu-hee kasar hanya karena tak mengucapkan "terima kasih" saat pertama bertemu, padahal baginya itu bukan soal sopan santun, melainkan soal esensi apa yang ingin disampaikan.
Drama ini juga menyentil sesuatu yang jarang disadari: bahasa itu sendiri tidak pernah netral. Mu-hee pernah menyindir bahwa sebenarnya ada sebanyak "bahasa" di dunia ini seperti jumlah manusia, karena setiap orang punya cara sendiri mengungkapkan makna bahkan saat menggunakan kosakata yang sama. Ia bahkan mengkritik aplikasi penerjemah otomatis yang terdengar kaku dan hampa emosi. Ho-jin, sang penerjemah, memahami betul bahwa tugasnya bukan sekadar memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain, melainkan memindahkan rasa dan itu jauh lebih sulit.
Di balik kisah cinta ini, ada narasi sosial yang lebih besar: generasi muda Korea dan Jepang hari ini tumbuh bersama gelombang budaya populer seperti K-pop, J-pop, dan drama, yang perlahan meruntuhkan sekat prasangka yang diwariskan sejarah. Mereka tidak lagi memandang satu sama lain sebagai musuh masa lalu, melainkan sebagai teman yang saling ingin dimengerti.
Can This Love Be Translated? pada akhirnya menjawab pertanyaan dalam judulnya sendiri. Cinta dan pemahaman lintas budaya secara umum memang bisa diterjemahkan, tapi bukan lewat kata yang sempurna. Ia diterjemahkan lewat kesediaan untuk mendengarkan, lewat empati yang menembus tatemae dan jeong sekaligus, dan lewat keberanian untuk tetap mencoba memahami meski berbeda bahasa, berbeda budaya, berbeda cara mencintai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
8


























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543643/original/041077600_1775031375-WhatsApp_Image_2026-04-01_at_14.33.02__1_.jpeg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510193/original/003574000_1771822191-pexels-shameel-mukkath-3421394-5817525.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559034/original/060735700_1776504757-pexels-loquellano-16123121.jpg)