REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Aglaya Qaulan Sadida
Generasi Z atau Gen Z terbiasa menuntut hidup cepat dan praktis. Ketika terjun ke dunia kerja, aturan panjang birokrasi memaksa mereka untuk beradaptasi.
Contohnya Rafif Qardhawi yang pertama kali terjun ke lingkungan kerja. Rafif melihat pengalaman pertamanya di dunia birokrasi sebagai proses penyesuaian dengan lingkungan kerja yang berbeda dari kebiasaan Gen Z. Sebagai generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan ritme serba cepat, Rafif mulai memahami sistem kerja pemerintahan memiliki alur dan tanggung jawab yang lebih terstruktur.
Sebagai ASN di Subkelompok Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi pada Biro Perekonomian dan Keuangan Setda Provinsi DKI Jakarta, Rafif melihat birokrasi memiliki alur kerja yang lebih panjang dan terstruktur dibanding lingkungan kerja yang selama ini akrab dengan Generasi Z (Gen Z). Rafif berkata, Gen Z biasanya maunya cepat dan praktis, sedangkan birokrasi menuntut proses yang sistematis sesuai aturan.
Tak hanya Rafif, pengalaman serupa dirasakan Sabrina Rahmadhanty Maghfira, ASN di Kelompok Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Setda Provinsi DKI Jakarta. Saat pertama kali bekerja di lingkungan pemerintahan, ia merasa perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan ritme kerja birokrasi yang berbeda dengan budaya kerja generasinya. Sabrina berpendapat, Gen Z cenderung ingin sistem kerja yang cepat, fleksibel, dan efisien, sementara birokrasi punya alur kerja yang lebih terstruktur.
Rafif dan Sabrina merupakan bagian dari kelompok kecil Gen Z yang mulai masuk ke jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN). Berdasarkan Jurnal Civil Service Badan Kepegawaian Negara (BKN) edisi November 2025, Gen Z baru mengisi sekitar 8,6 persen dari total ASN nasional. Sementara itu, birokrasi Indonesia masih didominasi Generasi Y sebesar 56 persen dan Generasi X sebesar 35 persen.
Data tersebut menunjukkan budaya kerja birokrasi masih banyak dipengaruhi pola kerja generasi sebelumnya. Di sisi lain, pemerintah terus mendorong transformasi digital di berbagai lembaga publik. Kondisi ini membuat kehadiran Gen Z, yang dikenal dekat dengan teknologi dan budaya digital, dinilai semakin penting di lingkungan pemerintahan.
Kontras itu terlihat jika dibandingkan dengan komposisi penduduk Jakarta. Berdasarkan Survei Penduduk Antar-Sensus (SUPAS) 2025 Badan Pusat Statistik (BPS), Gen Z mencakup 24,12 persen penduduk Jakarta, sementara generasi Milenial mencapai 24,82 persen. Meski mendominasi komposisi penduduk usia produktif, keterwakilan mereka di birokrasi masih tergolong rendah.
Minat anak muda menjadi ASN juga dinilai mulai berubah. BKN mencatat 1.967 CPNS formasi 2024 memilih mengundurkan diri. Penempatan kerja yang jauh dari domisili dan pertimbangan penghasilan menjadi alasan yang paling banyak muncul.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

4 hours ago
10














































