REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia sukses menggelar Futsal Asian Cup atau Piala Asia Futsal 2026 pada 27 Januari hingga 7 Februari lalu. Turnamen yang diikuti 16 negara itu berlangsung di dua arena utama Jakarta, yakni Jakarta International Velodrome dan Indonesia Arena, Senayan.
Untuk pertama kalinya Piala Asia Futsal digelar di Tanah Air dan langsung meninggalkan kesan kuat. Tak hanya dari sisi penyelenggaraan, prestasi timnas Futsal Indonesia pun mencuri perhatian. Skuad Garuda asuhan Hector Souto mencetak sejarah dengan menembus partai final sebelum akhirnya takluk dari Iran melalui drama adu penalti.
Di balik kesuksesan tersebut, peran Ketua Umum Federasi Futsal Indonesia (FFI) Michael Victor Sianipar tak bisa dilepaskan. Berikut petikan wawancara Republika.co.id bersama Michael Victor Sianipar, yang menjabat Ketum FFI periode 2024–2028 pada Senin (9/2/2026).
Futsal Asian Cup 2026 baru saja selesai digelar. Dari sisi penyelenggaraan secara keseluruhan, apakah Anda sudah puas? Apa yang masih kurang maksimal?
Semua bisa melihat acara AFC Futsal kemarin berjalan dengan sangat baik. Memang, Indonesia belum punya banyak pengalaman menjadi tuan rumah kompetisi futsal internasional. Kalau bicara teknis, pasti ada saja hal yang masih kurang.
Saya pikir itu semua bagian dari proses pembelajaran kami menjadi tuan rumah event internasional yang lebih baik lagi ke depannya. Namun pada umumnya, para tim yang datang mengapresiasi kerja kami untuk mempersiapkan dan terus memperbaiki kualitas penyelenggaraan acara sampai dengan akhir.
Partisipasi dan antusiasme penonton bagaimana selama Piala Asia 2026, khususnya saat timnas Indonesia bermain?
Kalau pertandingan di mana timnas Indonesia bermain, antusiasme penonton tidak diragukan lagi. Berkali-kali kita full house, bahkan sampai publik kesulitan mencari tiket karena sudah habis dijual.
Sejujurnya, antusiasme sebesar ini belum tentu ada di negara-negara lain. Masyarakat Indonesia haus akan event olahraga di mana Indonesia bisa menunjukkan kelasnya di level dunia. Ini yang membuat futsal semakin menarik bagi masyarakat kita.
AFC sempat mencatat sejumlah pelanggaran terkait perilaku penonton. Bagaimana tanggapan Anda?
Ini kembali ke kondisi bahwa Indonesia belum punya banyak pengalaman menyelenggarakan event futsal internasional. Hal-hal yang dinyatakan sebagai pelanggaran oleh AFC akibat tindakan suporter yang dianggap masuk ke area lapangan.
Saya pikir bukan hal yang perlu dibesar-besarkan, karena masih dalam batas wajar. Kami juga sudah menyampaikan keberatan kami atas sanksi tersebut dan meminta kebijaksanaan AFC agar melihat konteks yang lebih utuh. Pada akhirnya, apa pun keputusan AFC yang sudah bersifat final, pasti kami akan tunduk.
Dari sisi prestasi, timnas mencetak sejarah dengan lolos ke final. Bagaimana penilaian Anda?
Penampilan para pemain timnas dan kepiawaian Coach Hector memimpin timnas sangat membanggakan. Banyak yang mengira Iran akan benar-benar mendominasi, tapi yang terjadi justru Indonesia menunjukkan kelasnya.
Performa timnas di lapangan adalah ekspresi jiwa dan raga bangsa Indonesia. Kita bukan bangsa yang minder, bukan bangsa yang mudah menyerah, kita bangsa yang akan terus berjuang untuk Tanah Air. Inilah spirit futsal Indonesia, kebanggaan Garuda di dada.
Dalam tiga tahun terakhir prestasi Timnas Futsal konsisten meningkat. Apa kuncinya?
Kunci konsistensi timnas Futsal tidak terlepas dari Liga Futsal yang kompetitif dan terus berkembang. Pemain timnas hanya sekitar tiga bulan bersama tim nasional, sisanya mereka ditempa di klub melalui Professional Futsal League (PFL).
Ini bukti kontribusi nyata para klub dan staf kepelatihan. Bahkan Coach Hector pun sering kesulitan memilih pemain karena kualitasnya merata. Liga adalah fondasi utama kekuatan timnas.

3 weeks ago
20



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)












