Janji yang Disaksikan Langit: Pernikahan, Ibadah Terpanjang yang Sering Kita Remehkan

2 hours ago 4

Oleh: Azis Subektu, Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Al Azhar Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra.

REPUBLIKA.CO.ID, Ada janji yang diucapkan manusia dengan suara lantang, lalu hilang ditelan waktu. Ada pula janji yang bahkan tak sempat selesai diucapkan, sudah retak oleh ego yang diam-diam tumbuh. Namun pernikahan—dalam Alquran—tidak diberi ruang untuk menjadi janji yang ringan. Ia disebut mitsāqan ghalīẓan: perjanjian yang tebal, berat, dan tak bisa diperlakukan sembarangan.

Kita sering memulai pernikahan dengan gegap gempita. Undangan disebar, foto diabadikan, doa-doa dilangitkan. Tetapi jarang kita berhenti sejenak untuk bertanya: apa sebenarnya yang sedang kita ikat?

Alquran menjawab dengan cara yang tidak biasa. Kata yang sama—mitsāqan ghalīẓan—digunakan untuk menggambarkan perjanjian Allah dengan para nabi (QS. Al-Ahzab: 7), dan perjanjian umat dengan Tuhan (QS. An-Nisa: 154). Lalu, kata itu juga dipakai untuk pernikahan (QS. An-Nisa: 21). Di titik ini, pernikahan berhenti menjadi urusan privat. Ia naik derajat menjadi peristiwa spiritual yang berdiri sejajar dengan perjanjian-perjanjian besar dalam sejarah manusia.

Dan di sanalah letak kegelisahan yang sering kita abaikan. Para ulama klasik membaca ayat ini dengan kedalaman yang tidak tergesa. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, pernikahan dipahami sebagai ikatan yang mengharuskan laki-laki menjaga, melindungi, dan memperlakukan perempuan dengan kebaikan yang tidak setengah-setengah. Bukan sekadar memenuhi hak, tetapi menghadirkan ihsan—kebaikan yang melampaui kewajiban.

Sementara dalam Tafsir Al-Qurthubi, frasa mitsāqan ghalīẓan dipandang sebagai penegasan bahwa hubungan suami-istri bukan transaksi yang bisa dibatalkan sesuka hati. Ia adalah amanah yang disertai konsekuensi moral, sosial, bahkan eskatologis—dipertanggungjawabkan tidak hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah.

Dua tafsir ini seperti dua cermin yang saling menguatkan: pernikahan bukan tentang memiliki, tetapi tentang menjaga. Bukan tentang hak semata, tetapi tentang tanggung jawab yang tidak bisa dinegosiasikan oleh ego.

Di tengah dunia yang serba cepat, kita terbiasa mengukur segalanya dengan durasi singkat. Karier bisa berubah dalam hitungan tahun. Pertemanan bisa datang dan pergi dalam musim yang tidak panjang. Bahkan ibadah sering kita jalani dalam fragmen-fragmen waktu: beberapa menit untuk shalat, beberapa hari untuk puasa, beberapa jam untuk sedekah.

Namun ada satu ibadah yang—jika dijaga—menjadi yang paling panjang dalam hidup manusia:

pernikahan.

Ia bukan ibadah yang selesai dalam satu waktu. Ia adalah ibadah yang berjalan setiap hari—dalam diam, dalam konflik, dalam kesabaran yang tidak selalu terlihat. Ia hidup di sela percakapan kecil, dalam keputusan-keputusan yang tampak sepele, dalam kemampuan menahan diri ketika ingin menang sendiri.

Pernikahan adalah ibadah yang tidak pernah benar-benar “libur”. Dan justru karena itu, ia sering diremehkan. Kita lebih takut salah dalam ibadah yang singkat, tetapi sering abai dalam ibadah yang berlangsung seumur hidup.

Di sinilah mitsāqan ghalīẓan menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar istilah. Ia adalah pengingat yang terus mengetuk: bahwa setiap kata dalam akad nikah adalah utang moral yang jatuh temponya setiap hari.

Ketika seorang suami memilih untuk tetap lembut di tengah kelelahan, di sanalah ia sedang menunaikan janjinya. Ketika seorang istri memilih untuk tetap setia di tengah badai, di sanalah ia sedang menjaga perjanjiannya.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada panggung. Tetapi langit mencatat.

Maka mungkin, yang perlu kita ubah bukan cara kita menikah, tetapi cara kita memandang pernikahan. Bahwa ia bukan sekadar fase hidup. Bahwa ia bukan sekadar status sosial. Bahwa ia bukan sekadar legitimasi hubungan. Ia adalah perjanjian agung yang panjang—ibadah yang tidak selesai sampai salah satu dari kita dipanggil pulang.

Dan pertanyaannya menjadi sederhana, tetapi tidak ringan: apakah kita benar-benar siap hidup di dalam sebuah janji yang disaksikan oleh langit, setiap hari, sepanjang hidup kita?

Karena pada akhirnya, yang membuat pernikahan bertahan bukan cinta yang selalu menyala, melainkan kesadaran yang tidak pernah padam: bahwa kita sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri.

Read Entire Article
Food |