REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Potensi zakat dan wakaf di Indonesia terus didorong agar tidak berhenti pada penghimpunan, tetapi dapat dioptimalkan menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi umat. Untuk mewujudkannya, penguatan jejaring dan kerja bersama antarlembaga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem filantropi Islam yang berkelanjutan.
Pesan tersebut mengemuka dalam forum “Zakat & Waqf for Inclusive Impact and Networking” yang digelar Kementerian Agama Republik Indonesia bersama BAZNAS RI, BPKH RI, Bank Muamalat, dan Rumah Zakat di Gedung Kolabora Kebaikan, Bandung, Selasa (22/9/2026).
Forum ini mempertemukan berbagai pihak dalam ekosistem zakat dan wakaf untuk memperkuat sinergi, kelembagaan, serta merumuskan program yang dapat memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.
Kementerian Agama Republik Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghofur, S.Ag., M.Ag. selaku Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf di Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) mendorong agar forum tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi menghasilkan tindak lanjut yang konkret, khususnya dalam meningkatkan keberdayaan masyarakat penerima zakat, infak, dan sedekah.
“Saya berharap melalui pertemuan hari ini dapat terbangun kolaborasi yang lebih kuat untuk membangun dan memfasilitasi masyarakat yang berhak menerima zakat, infak, dan sedekah agar menjadi lebih berdaya dan mandiri,” ungkapnya.
Ia berharap hasil forum dapat dilanjutkan melalui program nyata yang dapat dijangkau dan dilaksanakan bersama.
“Karena itu, saya berharap ada tindak lanjut dari pertemuan ini yang lebih konkret. Kita rumuskan bersama dalam program-program yang realistis dan dapat dijangkau serta dilaksanakan oleh kita semua,” lanjutnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc. mengatakan potensi zakat, infak, dan sedekah di Indonesia masih sangat besar. Namun, realisasi penghimpunannya saat ini baru sekitar 8 persen dari potensi yang ada.
“Karena itu, kita terus bertemu, berdiskusi, bekerja, dan melakukan evaluasi agar potensi tersebut dapat diwujudkan menjadi kenyataan,” ujar Sodik.
Menurutnya, optimalisasi potensi tersebut membutuhkan komitmen dan integritas dalam menjalankan amanah, sekaligus peningkatan profesionalisme dan kolaborasi antarlembaga.

1 hour ago
6
















































